Pagi ini kubuka mataku dengan setengah malas. Pundak bagian belakang terasa keras dan susah digerakkan.
Alarm tubuh yang menandakan ia butuh istirahat lebih. Iya, kusadari beberapa minggu belakangan ini jadwalku padat, bahkan jadwal padat merayap itu merambah juga waktu weekend-ku.
Kupaksakan tubuh untuk bangun. Setengah menyeret kaki ke kamar mandi untuk bebersih. Hari ini harus kulalui. Itu pasti!
Tak ada sarapan menanti di meja. Entahlah, mungkin pagi ini semua orang berburu dengan waktu. Alasan standar yang terlontar bila tidak sempat membuat sarapan. Sudahlah, seduh saja susu untuk sekedar pengganjal perut. Toh, aku tetap harus bergerak. Dengan atau tanpa sarapan di pagi hari.
Sudah saatnya berangkat kerja. Melalui jalanan yang macet di beberapa titik. Kemacetan memang seringkali tidak bisa ditolerir. Termasuk pagi ini. Ditambah pula dengan panas yang menyengat tangan yang tidak memakai sarung tangan. Akibat semalam pulang kehujanan dan sarung tangan basah tak terselamatkan.
Kurasakan lengkap hariku ini dengan tumpukan kerjaan yang menggunung. Seakan tiada habis kerjaan itu menghampiri dan menghampiri lagi. Belum lagi proses pulang kerja yang tidak kalah melelahkannya dibanding keberangkatan pagi ini ke kantor.
Ya Allah, jauhkanlah aku dari sifat-sifat orang yang tidak tau bagaimana bersyukur kepadaMu. Aku sadari, hidup yang selama ini sering aku resahkan, bisa jadi adalah kehidupan yang diharapkan oleh orang lain. HambaMu yang berada di belahan bumi lainnya.
Ya Allah, jadikanlah aku hambaMu yang mampu mensyukuri setiap nikmatMu. Sesungguhnya setiap harinya kurasakan nikmat yang tiada tara nya dalam kehidupanku. Kau hidupkan aku setiap paginya dengan kesempurnaan tubuh dan kesehatan yang hanya mampu diciptakan olehMu. Menitipkan aku pada malaikatMu yang kupanggil dengan sebutan keluarga. Menghadiahi aku dengan sahabat baik yang selalu mendukungku. Penghormatan baik di masyarakat dan pekerjaan yang baik pula. Sesungguhnya tiada lagi daya dan upayaku dalam mengingkari semua nikmat yang Kau berikan.
Ya Allah, sesungguhnya cerita hari ini bukanlah tentang keluh kesahku akan kehidupanku. Tapi tentang bagaimana aku mampu mensyukuri apapun yang aku dapatkan, dan berjuang untuk melakukan yang terbaik dalam mensyukuri semua nikmatMu.
Thanks Allah, thanks for everything I have.
Friday, May 08, 2015
Monday, April 06, 2015
Sebuah Kisah Perjalanan
Bulan lalu, Saya melakukan perjalanan dengan seorang sahabat.
Tema perjalanan nya adalah menelusuri kejayaan Melayu jaman dahulu.
Tujuannya sudah barang tentu adalah Malaka, Melaka, atau Malacca.
3 nama itulah yang biasa dipakai. Dan dalam tulisan ini, Saya akan memakai kata Malaka. Karena lebih terbiasa menggunakan kata tersebut ;)
Perjalanan di mulai pada pagi hari di awal sebuah weekend.
Yups, harus pagi hari karena rumah kami terletak jauh dari bandara. Butuh minimal 2 jam perjalanan untuk sampai ke bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.
Perjalanan berlanjut dengan penerbangan selama kurang lebih 2 jam ke Kuala Lumpur.
Dari Kuala Lumpur, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat dengan bus.
Sampai di Malaka, perjalanan belum selesai. Kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan bis kota yang mengantarkan kami ke hotel.
Hotel kami terletak tidak jauh dari pusat wisata.
Perjalanannya sendiri pun sebenarnya tidak lama.
Namun karena saat itu adalah malam minggu, dimana daerah tersebut jadi begitu amat sangat ramai, maka kemacetan tidak dapat terelakkan lagi. Jadilah kami harus berlama-lama menunggu bis tersebut di terminal. Termasuk berlama-lama menghadapi macetnya jalan malam itu. hufftt...
Kami tidak tau lokasi pasti hotel yang dimaksud walau dalam lampiran bukti pemesanan hotel, dilampirkan denah lokasi.
Adalah seorang kakek tua yang sejak dalam bis memberitahu bahwa dia tau lokasi hotel tersebut.
Singkat cerita, sang kakek yang mengaku bernama Datuk Idrus mengajak kami turun di satu titik yang sebenarnya jauh dari lokasi hotel kami berada.
Beberapa kali beliau pun bertanya kepada pemilik hotel dan pemilik toko perihal hotel yang dimaksud.
Arghhh.. sebenarnya nih kakek tau ga sih??
Saya menggerutu dalam hati.
Namun melihat keceriaan Datuk Idrus dalam mengantar kami dan ceritanya tentang lokasi wisata dan kejayaan Melayu pada jaman dahulu kala, akhirnya saya berdamai dengan kaki yang mulai letih berjalan mencari lokasi hotel.
Anggap saja, kami sedang melakukan walking tour gratis.
Walaupun perempuan, saya bukan termasuk dari golongan mereka yang tidak bisa membaca peta dan arah.
Hahaha... pisss ya sist ^_^v
Ketika pada akhirnya kami melalui jalan yang ada di dalam peta lokasi hotel yang terdapat di dalam lampiran booking hotel, kali ini Saya lah yang menjadi pemimpin rombongan.
Yeayyy dan akhirnya kami menemukan lokasi hotel yang dimaksud.
Sekilas info, lokasi hotel berhadapan dengan pantai yang cantik. Hotelnya bertarif murah dengan kamar yang lega dan fasilitas yang baik. Staf hotelnya pun sangat ramah dan membantu.
Kembali ke Datuk Idris.
Terlepas dari telah membuat kami berkeliling dengan ransel yang lumayan berat pada malam hari di saat kami telah lelah dalam seharian perjalanan, dia adalah orang baik.
Beliau mau dengan sukarela membantu kami menemukan lokasi yang kami cari.
Alasannya adalah "Saya suka membantu orang, karena Saya berharap orang lain akan membantu Saya ketika Saya membutuhkannya. Saya percaya teori tebar tuai."
That's the point!!
Berbuat baiklah.
Percayalah teori tebar tuai tersebut.
Saya sendiri percaya!
Dan Alhamdulillah, Saya selalu menemukan orang2 baik dalam perjalanan yang Saya lakukan.
Tema perjalanan nya adalah menelusuri kejayaan Melayu jaman dahulu.
Tujuannya sudah barang tentu adalah Malaka, Melaka, atau Malacca.
3 nama itulah yang biasa dipakai. Dan dalam tulisan ini, Saya akan memakai kata Malaka. Karena lebih terbiasa menggunakan kata tersebut ;)
Perjalanan di mulai pada pagi hari di awal sebuah weekend.
Yups, harus pagi hari karena rumah kami terletak jauh dari bandara. Butuh minimal 2 jam perjalanan untuk sampai ke bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.
Perjalanan berlanjut dengan penerbangan selama kurang lebih 2 jam ke Kuala Lumpur.
Dari Kuala Lumpur, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat dengan bus.
Sampai di Malaka, perjalanan belum selesai. Kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan bis kota yang mengantarkan kami ke hotel.
Hotel kami terletak tidak jauh dari pusat wisata.
Perjalanannya sendiri pun sebenarnya tidak lama.
Namun karena saat itu adalah malam minggu, dimana daerah tersebut jadi begitu amat sangat ramai, maka kemacetan tidak dapat terelakkan lagi. Jadilah kami harus berlama-lama menunggu bis tersebut di terminal. Termasuk berlama-lama menghadapi macetnya jalan malam itu. hufftt...
Kami tidak tau lokasi pasti hotel yang dimaksud walau dalam lampiran bukti pemesanan hotel, dilampirkan denah lokasi.
Adalah seorang kakek tua yang sejak dalam bis memberitahu bahwa dia tau lokasi hotel tersebut.
Singkat cerita, sang kakek yang mengaku bernama Datuk Idrus mengajak kami turun di satu titik yang sebenarnya jauh dari lokasi hotel kami berada.
Beberapa kali beliau pun bertanya kepada pemilik hotel dan pemilik toko perihal hotel yang dimaksud.
Arghhh.. sebenarnya nih kakek tau ga sih??
Saya menggerutu dalam hati.
Namun melihat keceriaan Datuk Idrus dalam mengantar kami dan ceritanya tentang lokasi wisata dan kejayaan Melayu pada jaman dahulu kala, akhirnya saya berdamai dengan kaki yang mulai letih berjalan mencari lokasi hotel.
Anggap saja, kami sedang melakukan walking tour gratis.
Walaupun perempuan, saya bukan termasuk dari golongan mereka yang tidak bisa membaca peta dan arah.
Hahaha... pisss ya sist ^_^v
Ketika pada akhirnya kami melalui jalan yang ada di dalam peta lokasi hotel yang terdapat di dalam lampiran booking hotel, kali ini Saya lah yang menjadi pemimpin rombongan.
Yeayyy dan akhirnya kami menemukan lokasi hotel yang dimaksud.
Sekilas info, lokasi hotel berhadapan dengan pantai yang cantik. Hotelnya bertarif murah dengan kamar yang lega dan fasilitas yang baik. Staf hotelnya pun sangat ramah dan membantu.
Kembali ke Datuk Idris.
Terlepas dari telah membuat kami berkeliling dengan ransel yang lumayan berat pada malam hari di saat kami telah lelah dalam seharian perjalanan, dia adalah orang baik.
Beliau mau dengan sukarela membantu kami menemukan lokasi yang kami cari.
Alasannya adalah "Saya suka membantu orang, karena Saya berharap orang lain akan membantu Saya ketika Saya membutuhkannya. Saya percaya teori tebar tuai."
That's the point!!
Berbuat baiklah.
Percayalah teori tebar tuai tersebut.
Saya sendiri percaya!
Dan Alhamdulillah, Saya selalu menemukan orang2 baik dalam perjalanan yang Saya lakukan.
Labels:
friendship,
jalan-jalan,
life,
me,
sejarah,
senja,
sisterhood,
stories
Friday, February 13, 2015
There is Allah for Backup Plan
Baca status seorang teman awal minggu ini di sebuah jejaring sosmed:
Liat agenda Rencana hari senin tanggal 9/2/15 ABCDE
Rencana semalam buat hari ini BCDF
Bangun Tidur liat jendela, ternyata Rencana Tuhan XYZ
Rencana semalam buat hari ini BCDF
Bangun Tidur liat jendela, ternyata Rencana Tuhan XYZ
Ya udah jalanin aja apa yang sudah digariskan hari ini.....
Terlepas semua diatas pasti gw menemukan HIJK atau MNOP
atau mungkin sesuatu yang baik lainnya
Well happy monday people... Keep smiling..
Hey, well,, ini sepenuhnya benar!
Sebaik-baik sang perencana adalah Allah
Kita bisa aja buat rencana dengan baiknya berikut dengan kemungkinan2nya
Bahkan kita bisa saja berencana untuk memperkecil resiko rencana kita tidak terlaksana
Namun, balik dari semua itu, Allah lah sang perencana terbaik
Berjuang, berusaha, ikhtiar, berdoa; yakin usaha sampai!
Sampai titik itu semua, kita pun harus dapat bersyukur dan ikhlas
Friday, January 16, 2015
Being Thankful
it's a great years
it's a great life
and I'm very thankful for Allah almighty
"maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan - Ar Rahman:13"
tidak ada satu daya dan upaya yang mampu kulakukan untuk mendustakan semua nikmat
yang telah diberikan oleh Nya,
nikmat kesehatan, kehidupan yang luar biasa, keluarga yang menyayangiku dan teman-teman yang baik
yang membuat kehidupanku menjadi berwarna
semua keluhan yang keluar dari mulutku atau terbesit dalam hatiku tidak menjadikan aku manusia
yang tidak mensyukuri semua nikmat itu
aku, hanya harus lebih belajar bersyukur
aku, harus bisa lebih menghargai kehidupanku
aku, harus lebih bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi lingkungannya
dan pada akhirnya, aku harus mampu lebih bersyukur atas semua hal yang terjadi padaku
karena aku sungguh tau kalau Tuhanku pasti akan memberikan semua yang aku butuhkan, bahkan di saat aku belum memintanya
terimakasih Allah atas semua nikmat yang telah Kau berikan kepadaku
terimakasih masih memberikan kehidupan yang luar biasa padaku hingga saat ini
SELAMAT ULANG TAHUN LALA
Thursday, December 11, 2014
Hidup dari Impian
Pada akhirnya, kita harus berani menuju impian yang kita inginkan
Bertekad untuk hidup sesuai dengan impian tersebut
Melaksanakan imajinasi dan mengembangkannya
Dan....
Jika kita mampu untuk menembus batas imajinasi,
Maka kita akan menemui kesuksesan dalam waktu yang tidak terduga
Friday, November 14, 2014
#letscelebrateourlife
dibutuhkan banyak teman,
banyak kemauan,
dan sedikit kegilaan
untuk membuat hidup menjadi lebih hidup
#letscelebrateourlife
Wednesday, November 12, 2014
Hujan di Akhir Kemarau
Cinta, betapa aku merindukannya seperti hujan di akhir kemarau
Seperti senja yang merindukan cerahnya mentari pagi
Cinta, betapa kemarau tak dapat mengubahmu menjadi gurun tandus
Bahkan baginya, gurun tandus pun laksana surga dengan sungai yang mengalir indah di dalamnya
Cinta, kerinduanku akan hujan membuatku mampu menunggu sampai berakhirnya kemarau
Seperti karang yang kokoh menunggu ombak berlabuh dalam dekapannya
Seperti senja yang merindukan cerahnya mentari pagi
Cinta, betapa kemarau tak dapat mengubahmu menjadi gurun tandus
Bahkan baginya, gurun tandus pun laksana surga dengan sungai yang mengalir indah di dalamnya
Cinta, kerinduanku akan hujan membuatku mampu menunggu sampai berakhirnya kemarau
Seperti karang yang kokoh menunggu ombak berlabuh dalam dekapannya
Subscribe to:
Posts (Atom)






.jpg)