Wednesday, October 28, 2015
Dedicated to girls
Tuesday, October 20, 2015
Travelmate
Yes, right, travelmate menurut versi saya adalah temen jalan yang bisa diajak gila dalam menghadapi sebuah perjalanan. Termasuk mengganti plan A to Z sambil tertawa terbahak karena melewatkan B, C, D dan huruf lainnya.
Wednesday, September 30, 2015
Gelap
Tentunya saya amat sangat tidak berharap! Karenanya bila pertanyaan itu diajukan kepada saya, saya tidak akan berani membayangkannya.
Di dalam gua sepanjang kurang lebih 300 meter itu, sama sekali tidak ada cahaya. Karenanya, kami menyewa tiga buah senter sebagai penerangannya.
Menurut sang guide yang mengawal perjalanan kami, gua tersebut pada masanya dipakai sebagai tempat penyimpanan amunisi perang. Termasuk hidup dan berkehidupan para tentara.
Nah, balik lagi ke pertanyaan di atas.
Kebayang ga sih hidup pada masa itu di dalam gua tersebut?
Throw back to the time when I visit Vietnam. Disana ada Chuchi tunnel. Saat ini, untuk keperluan pariwisata, Chuchi tunnel tersebut diperbesar ukurannya agar bisa dimasukin turis asing yang berbadan jauh lebih besar dari bangsa Vietnam. Juga dipermudah dengan fasilitas tangga yang lebih baik dibanding pada masa awal dibuatnya. Padahal pada masanya, masa perang Vietnam, tunnel tersebut berfungsi sebagai bagian dari kehidupan sebagian besar masyarakatnya. Mereka hidup dan berkehidupan di dalamnya. Makan, tidur, dan melakukan aktivitas hidup lainnya. Tentu saja jangan harapkan ada penerangan memadai disana pada masa itu.
Lalu kita balik lagi pada pertanyaan di atas. Kebayang ga sih hidup pada masa itu di dalam tunnel tersebut?
Tuesday, September 22, 2015
PASSPORT
Saya katakan saya tidak tahu. Dalam hidup ini, setahu saya hanya orang bodohlah yang selalu memulai pertanyaan hidup, apalagi memulai misi kehidupan dan tujuannya dari uang. Dan begitu seorang pemula bertanya uangnya dari mana, maka ia akan terbelenggu oleh constraint. Dan hampir pasti jawabannya hanyalah tidak ada uang, tidak bisa, dan tidak mungkin.
Pertanyaan seperti itu tak hanya ada di kepala mahasiswa, melainkan juga para dosen steril yang kurang jalan-jalan. Bagi mereka yang tak pernah melihat dunia, luar negeri terasa jauh, mahal, mewah, menembus batas kewajaran dan buang-buang uang. Maka tak heran banyak dosen yang takut sekolah ke luar negeri sehingga memilih kuliah di almamaternya sendiri. Padahal dunia yang terbuka bisa membukakan sejuta kesempatan untuk maju. Anda bisa mendapatkan sesuatu yang yang terbayangkan, pengetahuan, teknologi, kedewasaan, dan wisdom.
Seorang mahasiswa asal daerah yang saya dorong pergi jauh, sekarang malah rajin bepergian. Ia bergabung ke dalam kelompok PKI (Pedagang Kaki Lima Internasional) yang tugasnya memetakan pameran-pameran besar yang dikoordinasi pemerintah. Disana mereka membuka lapak, mengambil resiko, menjajakan aneka barang kerajinan, dan pulangnya mereka jalan-jalan, ikut kursus, dan membawa dolar. Saat diwisuda, ia menghampiri saya dengan menunjukkan pasportnya yang tertera stempel imigrasi dari 35 negara. Selain kaya teori, matanya tajam mengendus peluang dan rasa percaya tinggi. Saat teman-temannya yang lulus cum-laude masih mencari kerja, ia sudah menjadi eksekutif di sebuah perusahaan besar di luar negeri.
Dalam bukunya yang berjudul The Next Convergence, penerima hadiah Nobel ekonomi Michael Spence mengatakan, dunia tengah memasuki Abad Ke tiga dari Revolusi Industri. dan sejak tahun 1950, rata-rata pendapatan penduduk dunia telah meningkat dua puluh kali lipat. Maka kendati penduduk miskin masih banyak, adalah hal yang biasa kalau kita menemukan perempuan miskin-lulusan SD dari sebuah dusun di Madura bolak-balik Surabaya-Hongkong.
Saya pikir ada baiknya para guru mulai membiasakan anak didiknya memiliki pasport. Pasport adalah tiket untuk melihat dunia, dan berawal dari pasport pulalah seorang santri dari Jawa Timur menjadi pengusaha di luar negeri. Di Italy saya bertemu Dewi Francesca, perempuan asal Bali yang memiliki kafe yang indah di Rocca di Papa. Dan karena pasport pulalah, Yohannes Surya mendapat bea siswa di Amerika Serikat. Ayo, jangan kalah dengan Gayus Tambunan atau Nazaruddin yang baru punya pasport dari uang negara.
Friday, September 11, 2015
Ramai dalam kesunyian
Waktu sudah menunjukkan 22.20 WIB. Sudah lebih 20 menit dari waktu janjian awal, dan teman seperjalanan malam ini belum ada satupun yg menampakkan batang hidungnya di depan mataku.
Arrgghhh.. Udah janjian jam 10 malam aja, masih telat. Apalagi kalau kemarin beneran janjian jam 8? Bisa jamuran nungguin mereka. Gerutuku dalam hati.
Aku tidaklah sepenuhnya semerana itu. Pada saat yg sama, sambil menunggu mereka, akupun chit chat dengan teman-temanku yang lain. Teman-teman yang berada jauh dari tempatku berada, bahkan teman yang berada jauh di belahan bumi lainnya.
Thanks to internet tentunya :)
Dan terimakasih mesra juga terucap untuk jejaring sosial media.
Untuk kali ini, aku seperti terselamatkan dengan adanya semua sosial media itu. Terselamatkan dg adanya internet yg menyatukan kami.
Dilain waktu, saat pertemuan dengan teman lama yg sesungguhnya sudah lama direncanakan dan sering gagal krn kesibukan kita masing-masing, menjadi hambar karena masing-masing individunya sibuk dg gadgetnya masing-masing. Sibuk bersosialisasi di dunia maya dan lupa menyapa orang lain yang ada di sekitarnya.
Ironi yang lazim kita lihat akhir-akhir ini.
Monday, September 07, 2015
Being Grateful
Bukankah masih hidup dan sehat jg merupakan keberuntungan yg harus sll disyukuri?
.
.
Terkadang, kita harus melihat ke bawah. Bukankah terus melihat ke atas akan membuat leher sakit?
Selain itu, kemungkinan tersandung, keseleo dan nubruk sesuatu jg harus diperhitungkan.
#umpama
#selamatmenikmatihariini
.
.
Saturday, June 27, 2015
Triana
Sejak beberapa waktu yang lalu, tepatnya sejak saya mulai menyukai traveling, saya punya satu rencana;
"Bila nanti punya anak, saya akan menamakan anak2 saya tersebut dengan nama2 tempat yang ada di berbagai penjuru dunia. Biar kelak ketika dewasa mereka akan menuju kesana. Minimal sekali seumur hidupnya."
Sebenarnya rencana itu simple aja. Hanya ingin anak keturunan saya kelak bisa mengenal dunia. Bepergian ke berbagai tempat agar bisa 'belajar' dari perjalanannya tersebut.
25 Juni 2015 mendekati tengah malam, saya baru mengetahui kalau Triana adalah nama tempat. Hal itu saya ketahui dari sharing post seorang teman di FB yang menceritakan kehidupan temannya yg sedang berada di Spanyol.
Triana, berlokasi di Seville, Spanish.
http://goo.gl/maps/FJfMy
Orangtua saya tentunya tidak merencanakan perjalanan saya ini. Tidak seperti saya yang memang merencanaka kemana anak saya akan pergi. Tapi kelak, kesana saya akan melangkah.
Noted! Triana on my list!




