Showing posts with label travelling. Show all posts
Showing posts with label travelling. Show all posts

Wednesday, November 21, 2018

Old Town and New Knowledge



Jika pergi ke suatu tempat baru, baik di dalam maupun di LN, saya selalu menyempatkan pergi ke daerah kota tua nya. Daerah dimana pusat peradaban masyarakat tsb bermula. Biasanya, polanya sering kali mirip. Di sekitar pelabuhan, tempat dimana pusat perdagangan bermula dan berkembang lalu membesar. Atau di daerah lembah sungai, jika masyarakatnya agraris.

Dalam perjalanan saya ke NZ beberapa waktu yang lalu, saya berjalan kaki menyusuri wilayah kota tua di Auckland sambil menunggu teman-teman saya dari Jakarta, datang. Ya, dalam perjalanan kali ini, saya beda pesawat dengan ke-3 teman saya. Saya sudah sampai satu hari sebelumnya. Di wilayah kota tua, saya berjalan ke pelabuhan, ke terminal feri, ke gereja yg terletak di samping pelabuhan, dan ke stasiun kereta api, tempat dimana barang-barang industri masuk ke negara ini lalu didistribusikan ke penjuru negeri ini. Oiya, kereta disini memang lebih difungsikan untuk mengangkut barang industri dan perdagangan, bahkan sampai sekarang. Untuk mobilitas orang, mereka lebih memilih menggunakan pesawat terbang atau berkendara dengan mobil jika bepergian. Kali ini kami pun mengikuti kebiasaan orang-orang, melakukan road trip menyusuri pulau utara ke selatan. Welcome jalanan NZ, hehe :)
Lalu di Christchurch, salah satu kota besar di South Island, saya juga melakukan hal yang sama. Mengelilingi wilayah kota tua.

Foto di atas adalah foto saya dengan patung salah satu pendiri kota Christchurch. Seorang yang pada masanya, mengarungi lautan puluhan ribu KM, dari negara asalnya, untuk sebuah cita-cita: gold glory and gospel. Yang pada masanya memang menjadi cita-cita hampir semua penjelajah samudera. Cita-cita yang pada akhirnya menimbulkan banyak penindasan terhadap sesama manusia, penaklukan terhadap daerah-daerah yang dikuasai oleh bangsa inferior. 

Selalu menjadi diskusi panjang jika membicarakan sejarah peradaban manusia. Selalu menyenangkan mengetahui pengetahuan baru berkenaan dengan kebudayaan suatu bangsa. Yaa, alasan inilah yang melandasi saya untuk selalu menyempatkan pergi ke daerah kota tua di tempat dimana saya pergi travelling. Semoga menginspirasi. 



Tuesday, August 01, 2017

The Great Wall of China




Siapa yang tidak tahu ’The Great Wall of China?’ Mengunjunginya pada musim dingin mungkin bukan pilihan terbaik bagi orang yang lahir dan besar di daerah tropis. Udara dingin yang berembus menyentuh tengkuk bisa terasa menusuk tulang. Untuk menghindari suhu dingin tersebut saya pun memilih ‘Badaling Section’ yang bisa dicapai dengan ‘Cable Car' sehingga tak perlu berjalan panjang melawan suhu yang berkisar minus 4 hingga 0 derajat Celcius.

Dari lima titik paling populer The Great Wall yang dapat dikunjungi--Badaling, Mutianyu, Jinshanling, Huanghuacheng, dan Simatai--‘Badaling Section’ adalah bagian yang paling banyak dipilih wisatawan karena kemudahan akses. Namun, sisi baik mengunjungi pada musim dingin adalah tidak terlalu banyak turis datang sehingga kita bisa lebih leluasa mengeksplorasi dan menikmati pemandangan serbaputih akibat salju yang turun.

Anyway, sudah follow @iwashere_id ?
Foto dan tulisan ini, bisa kalian liat dst jg yaa :)



Friday, July 28, 2017

Lebaran 1438H journey

Ga terasa bulan Syawal berlalu, padahal pengalaman lebaran kemarin blom sempet ditulis. Hehe.. ☺

Jadi, lebaran kali ini adalah lebaran pertama di Tambun. Sebenernya biasa aja sih, sama seperti lebaran-lebaran sebelumnya. Tapi overall memang ada yang berbeda dalam lebaran kali ini. Antara lain yaitu:
- Kita solat Ied di masjid deket rumah. Iya, beneran di masjid, bukan di jalanan seperti yang biasanya dulu masih di Kebalen. Atau jaman di Cakung, di jalanan dan peron stasiun. Solat Ied disini, ga serame itu. Jadi kita bisa solat di masjid.
- Masih banyak orang yang keliling halal bihalal. Padahal tetangga disini orangnya lebih sedikit.

Lebaran kali ini juga beda karena gw dan Puspa ikutan mudik ke Malang. It means 836 km away from home. 39 jam perjalanan pergi dan 30 jam perjalanan pulang.
Capek! Pegel! Iya pake banget yang jelas. Hahaha 👀
Pulang-pulang langsung pijit. Badan udah ngejerit soalnya.✋
Actually, this is my first lebaran road trip. A very long journey.

Sebenernya waktu efektif buat jalan-jalan selama di Malang cuma 2 hari. Hahaha, iyalah. Lamaan waktu yang dipake buat diperjalanan. Gapapa dehhh, nyobain mudik lebaran jauh. Siapa tau aja nanti punya mertua yang harus disamperin pake acara mudik gini. Jadi, itung-itung belajar. Hihihii.. ☺

Hari I:
Hari ini seharian kita di museum angkut.
Selama libur lebaran, HTM ke museum angkut adalah Rp 100.000,-.
Museum ini isinya segala macam jenis angkutan dan ceritanya tentang angkutan tersebut. Yang menariknya justru di museum ini banyak spot lucu yang bisa dipakai sebagai background foto. Jadilah museum ini seperti studio foto yang sangat luas bagi para pengunjungnya.
Andai aja gw dateng pas ga musim libur lebaran kayak gini, pasti bisa dapet banyak banget foto bagus. Sayangnya ini liburan, jadinya foto gw banyak foto bom nya. Hikss...


Seharian disini puas juga sih.. Bisa narsis!
Kocaknya adalah, kita susah buat pulang. Ga nemu gocar or ojek or taksi karena macet. Grabcar harganya mahaaalll buangettt. Akhirnya kita jalan jauh dulu sebelum naik grabcar biar lebih murah. Hahaha


Hari II
Rute hari ini: kampung Tridi, Jodipan, Sengkaling Kuliner, Sengkaling Water park, Alun-alun Malang.
Rutenya muterin kota. Hahaha..

Kampung Tridi dan Jodipan ini senada sejiwa. Kampung yang dicat warna warni dan banyak gambar yang bisa dijadikan sebagai background foto. Hahaha, lagi-lagi foto, yaa
Lucunya, kampung ini dulu termasuk daerah kumuh di kota Malang. Menarik! Ini membuktikan, dengan penataan yang baik, kampung yang tadinya kumuh bisa menjadi objek wisata.


Sengkaling kuliner adalah sebuah pujasera yang dikelola oleh UMM.
Not bad. Harga murah, enak. Makan jadi puas rasanya.

Sengkaling Water Park ini sebenernya ada tempat bermainnya juga. Ga cuma kolam renang aja. Jadi disini ada kolam renang, arena bermain, mainan anak2, ayunan, jungkat jangkit, bombom car, taman, photo both, kantin, dll. Tempat wisata keluarga yang juga dikelola oleh UMM.
Sayangnya kami tidak punya waktu terlalu banyak untuk mengeksplore tempat ini. Karena tujuan kami sebenarnya memang untuk berenang.
Iya, berenang!
Hahaha, bayangin aja, dingin-dingin berenang di kolam air dingin. Giiiimaanaaa gitu.....


Setelah malam, kami melanjutkan perjalanan ke alun-alun kota Malang. Seperti yang saya sebut di atas, ini rutenya memutar. Iya, sebenernya kami salah rute. Tapiii, yaa sudahlah
Alun-alun kota Malang itu sebenernya deket dengan kampung Tridi dan Jodipan itu tadi, ketimbang dari Sengkaling.
Yaaaa, namanya kita juga turis, Jadi ga tau jalan mah sahh aja yaa..
Disini kita ga ngapa-ngapain. Kita cuma mau foto yang ada tulisannya Malang. Penting banget soalnya!
Hahaha ☺






Monday, March 27, 2017

Trinity The Nekad Traveler, Film tentang Seni Melakukan Perjalanan

Dari mulai film Trinity The Nekad Traveler ini dipromosikan, saya dan teman-teman sudah berencana untuk menontonnya bersama. Namun karena waktu yang tidak pernah sinkron, baru weekend inilah kami dapat menontonnya.

Bagi saya pribadi, Trinity adalah salah satu orang yang menjadi inspirasi saya dalam melakukan perjalanan.
Sebagai "mbak-mbak kantoran", apa yang dirasakan oleh Trinity dulu, juga saya rasakan. Waktu cuti yang terbatas, deadline kerjaan, dan uang sebagai modal untuk melakukan perjalanan. Namun disinilah seninya menjadi seorang traveler. Traveler itu, harus bisa menyiasati semua halangan yang ada demi terlaksananya perjalanan. Jadi, unsur petualangan sangat kental disini.


Film ini disutradarai oleh Rizal Mantovani, dan Maudy Ayunda sebagai tokoh utamanya. Selain Maudy Ayunda sebagai Trinity, ada deretan artis terkenal sebagi pendukung film ini, antara lain adalah; Hamish Daud, Rachel Amanda, Anggika Bolsterli, Babe Cabita, Ayu Dewi, Cut Mini, Farhan, dan lain-lainnya.
Oiya, di film ini, kita juga akan melihat aslinya Trinity, lohh...

Menurut saya, film ini menggambarkan dengan baik seninya menjadi seorang traveler. Bagaimana mengatur waktu perjalanan dan menyiasatinya dengan cuti yang terbatas. Bagaimana membuat budget perjalanan sehemat mungkin sehingga perjalanan yang direncanakan bisa terlaksana dengan aman, nyaman dan mengesankan. Ada tips-tips praktis dalam melakukan travelling yang juga disisipkan di dalam film ini.
Satu yang saya selalu jalankan adalah; mengambil kartu nama hotel tempat kita menginap.

Film ini juga tidak monoton di segi cerita yang disampaikannya, ada unsur percintaan dan cerita sahabat yang divisualkan dengan baik. Sepanjang film, kita akan disodori oleh pemandangan di beberapa destinasi wisata yang memanjakan mata penontonnya.
Untuk saya, hal ini membuat saya ingin pergi juga ke tempat yang belum saya kunjungi yang ada di film ini.
Hehe, mari kita masukkan ke dalam bucket list must visited *;;) batting eyelashes

Secara keseluruhan, film ini akan saya beri point 8 dari 10. Saya suka semua hal yang ada di film ini.
Yang menyebabkan film ini menjadi tidak mendapat nilai sempurna 10 adalah karena penilaian subjektif saya sebagai penonton yang sudah menikmati karya Trinity dalam versi buku terlebih dahulu. Itu saja. Sehingga, saya mengharapkan, Trinity divisualkan dengan sosok yang lebih gagah dan mandiri. But overall, saya suka film ini dan menantikan buku lain Trinity untuk di film kan kembali.



Sunday, March 12, 2017

Goes to China

Yes, I did it!

Finally, awal Januari ini sukses liat salju!

Sebelumnya, awal tahun 2016, saya dan Fatima, teman saya, back to Seoul dan sekitarnya. Niatnya winter-an liat salju. Tapi ternyata ga ada salju disana. Selama 5 hari kita di Korea, liat salju (atau es, lebih tepatnya) yaaa pas di tempat ski. Dan berhubung ski itu mahal, jadilah kita cuma fotoan aja disitu. 😂😂😂

Maka kembalilah saya merencanakan winter trip berikutnya. Sebagai pengganti si winter trip yang mendekati gagal itu. Winter trip kali ini rencananya lebih ke utara. Tujuannya biar ga nanggung. Jadi memang sengaja cari lokasi yang pasti ada salju.
Harbin. Yes, HARBIN!
Pasti ada salju disana. Karena setiap tahunnya, di Harbin ada festival musim dingin; jadi akan ada festival salju dan festival es. Maka jadilah tujuan kita winter-an kali ini ke China.

Kenapa China?
Ini lebih ke faktor ekonomis aja, sebenernya. Sebelumnya, saya memutuskan mencari lokasi yang lebih ke utara, yang terjangkau dengan tabungan yang ada. China bagi saya juga merupakan negara yang ingin sekali saya kunjungi. Sejak saya suka sejarah, sejak saya tau China adalah salah 1 negara yang mempengaruhi kebudayaan dunia, sejak saya tau rute jalan sutra, sejak saya membaca kisah pembangunan Great Wall, sejak saya suka kisah Legenda Ular Putih, sejak pengen banget ketemu Yoko, sejak liat film Mummy yang shootingnya di China, sejak dulu sih pastinya. Jadi ini semacam melaksanakan bucket list; must visit.

Xi’an, Harbin dan Beijing adalah 3 kota di China yang saya kunjungi dalam trip kali ini. Kenapa 3 kota ini?
Jadi, ke China tanpa ke Great Wall dan ke Terracotta Wariors Museum itu bagi saya laksana kita pergi ke Mesir tanpa liat Pyramid atau ke Paris tapi ga ke Eiffel Tower. Atau kayak sayur ga digaremin; enak tapi tetep aja ga lengkap. So, mumpung ke China, Xi’an dan Beijing ga mungkin saya skip.
Harbin? Ya namanya juga ini winter trip yaa, jadi ya ke festival musim dingin di Harbin dong pastinya.

Rute saya selama winter trip ini adalah:
Bekasi – Cengkareng – KL – Xi’an – Harbin – Beijing – KL – Cengkareng – Bekasi.

Dari Cengkareng ke Xi’an dan dari Beijing balik ke Cengkareng, saya naik Air Asia. Dapet tiket murah karena lagi promo. Tapi ga murah-murah banget sih, ada teman yang dapet lebih murah soalnya.
Dari Xi’an ke Harbin, saya naik China Southern Airlines. Maskapai fullboard. Ga dapet harga murah. Mungkin karena belinya juga udah mendekati hari H. Dan waktu yang saya pilih adalah musim liburan. Jadi harga yang saya keluarkan bahkan lebih mahal dari tiket PP Indonesia – China yang saya beli sebelumnya di Air Asia.


Xi’an

Ngapain aja di Xi’an? Kemana aja? Ada apa disana?
 
Xi’an yang saya tau adalah sebuah kota kuno. Kota yang sudah sejak lama ada, bahkan merupakan pusat pemerintahan China di jaman dulunya.

80% wisata di Xi’an adalah wisata sejarah. Ada Terracotta Wariors Museum disini, ada Bell Tower of Xi’an, Xi’an City Wall, Titik 0 KM Jalan Sutra dan lain-lain hal yang berhubungan dengan sejarah China, juga sejarah peradaban dunia. Bahkan wisata kuliner yang saya lakukan disini pun berhubungan dengan wisata sejarah. Tempat yang terkenal untuk wisata kuliner ada di daerah Muslim Street. Kawasan ini dekat dengan Great Mosque of Xi’an. Masjid raya yang sudah berusia ribuan tahun, dan masih digunakan untuk ibadah sehari-hari kaum muslim itu sendiri. Selain tentu saja dibuka untuk wisata sejarah bagi umat beragama lainnya.
Oiya, untuk muslimin yang masuk ke Great Mosque of Xi’an ini gratis. Tapi untuk umat beragama lain, tiket masuk adalah 15 Yuan.

Saya cuma 2 hari aja di Xi’an.

Hari I
1)    Xi’an City Wall, 2) Bell Tower, 3) Keliling pusat perbelanjaan (sesungguhnya kami ‘ga belanja, Cuma sekedar menghangatkan tubuh aja, kokk.. hahaha), 4) Muslim Quarter, 5) Great Mosque of Xi’an, 6) Muslim Street.
Rute ini saya jalani seharian, dari jam 10 AM keluar hostel, balik ke hostel jam stgh 10 malam.

Hari II
Terracotta Wariors Museum!
Iya, hari ini cuma 1 lokasi aja. Soalnya perjalanannya juah dan saya harus cari jejak untuk bisa kesini. Feel free to get lost deh pokoknya. Hahaha...
Episode ke Terracotta Wariors Museum itu jadi cerita panjang tersendiri tentunya!




Di hari saya ke Terracotta Wariors Museum, saya harus terbang ke Harbin di malam harinya. Saya sudah janjian dengan Fatima disana. Dia menyusul saya ke China di hari berikutnya dengan Malaysian Airlines dan langsung menuju Harbin.


Harbin

Saya ke Harbin naik China Shouthern Airlines. Ini penerbangan fullboard, jadi mahal. Saya sendiri ga rekomen maskapai ini. Bukan Cuma karena mahalnya aja sih, maskapai ini ga ada check in online-nya. Padahal antrian check in nya aduhaiii dehh.. Antriannya semrawut! Lama! Gak terkoordinasi dengan baik. Padahal saya masih harus masuk bagian pemeriksaan bandara Xi’an yang berlapis-lapis. Hikkss, pake acara lari-larian, jalan jauh dan masuk pesawat terengah-engah. Dapet tempat duduk paling belakang. Kursi di depan saya ga sopan karena mundurin bangkunya sampe mentok. Bikin saya ngerasa sumpek banget. Hal ini diperparah dengan seringnya saya kesikut ama orang-orang yang ga berhenti-hentinya ke toilet. Makkkk! Ampuunn!

Saya ga mau cerita lebih banyak tentang kekecewaan saya terhadap maskapai ini. Masih banyak daftar kekecewaan saya sebenernya, tapi biarlah ini menambah kisah saya dalam perjalanan kali ini. Namanya perjalanan kan emang gitu, there is always good and bad side in the same times.

Saya sampe di Harbin tanggal 3 dinihari. Cuma punya waktu yang seharian penuh, yah pas di tanggal 3 itu aja. Tanggal 4 siang udah harus ke Beijing.
Agak memaksakan ya?!
Saya rasa juga gitu. Apalagi dengan semua biaya yang harus saya keluarkan dalam perjalanan ke Harbin ini. Kok, saya kayak ngerasa “ga sebanding” aja.

Tapi ketika saya mikir lagi untuk berada berlama-lama di suhu minus tinggi, kok yahh jadi ketar ketir sendiri mikirinnya yaahh..
Alhasil? Yah itulahh..
Saya cuma sehari explore Harbin.
Untungnya di Harbin memang tidak terlalu banyak spot yang bisa diexplore. Semua yang jadi highlight disini adalah tentang salju, es, dan musim dingin. Dan itu ada di satu lokasi yang disebut Sun Island. Tapi jangan harap matahari bersinar cerah ceria di Pulau Matahari ini yah. Apalagi pas musim dingin.😆

Karena datengnya udah dinihari, kita baru keluar penginapan di jam 11 siang.
Udah lapar karena dari semalem gak makan. Jadi, kita cari makan dulu. Lucunya, kita malah makan makanan Korea. Hahaha 😋😁



Di Harbin:
  • Saya ke Sun Island dan mengunjungi 1) Snow Sculpture Festival, 2) North Pole, 3) Ice World Festival. 
  • Sophia Church; karena ini Gereja, jadi kita fotoan di depannya aja. Itu aja udah seneng banget. Berasa ke Rusia, gitu. Soalnya arsitekturnya Sophia memang mirip banget gereja-gereja di Rusia. Ga heran sih, Harbin itu kan daerah utara China yang memang berbatasan dengan Rusia.
Yang jelas selama di Harbin, kita tuh seneng banget karena bisa ngeliat salju yang banyak dan berserakan di taman-taman dan jalan-jalan. Bahkan foto-fotoan di taman aja, udah happy. Maklum ajalah yaa, kita kan anak daerah tropis yang dari lahir ga pernah ngeliat salju.

Disini banyak orang baik. Setidaknya, disini kita sering ditolong sama orang-orang baik yang dengan sukarela membantu. Ada polisi yang baik hati ngasih tau jalan walau bahasa Inggris nya gubrak banget. Hahaha
Ada pula Tao, mahasiswa yang mukanya boros. Sumpah, saya kirain seumuran ama kita. Hahaha
Tapi dia baik banget. Nganterin kita keliling nyariin Ice World Festival dan Gereja Shopia. Bantuin nolak-nolakin tukang dagang yang pada maksa di depan Ice World Festival. Sampe bayarin bis pass keluar dari Sun Island karena kita ini adalah turis yang kliwat gaya dan ga punya recehan 1 Yuan buat bayar bis. Ouch..
Sayangnya foto kita bertiga sama Tao ngeblur gitu. Andai aja bagus, saya bakalan pasang deh.



Ada beberapa hal sebenernya yang gagal untuk dilakuin di Harbin. Antara lain adalah foto-foto bertabur salju atau tiduran di salju. Hahaha.. Iya, saya norax!


Beijing

Sampe di Beijing udah malem. Yang dilakukan Cuma nyari hotel yang udah kita booking sebelumnya dan istirahat. Persiapan diri untuk perjalanan besoknya.

Selama di Beijing kita nginap di Spring Time Hostel. Lokasinya ga jauh dari stasiun metro. Sebelah pintu keluarnya persis. Dari segi lokasi, it is in a good location. Kita ga perlu jalan jauh-jauh untuk mencapai stasiun metro. Walau ini hostel, tapi kamar dan pelayanannya OK. Harganyapun murah. Saya rekomen hotel ini buat tempat menginap kalau ada orang yang tanya rekomendasi penginapan di Beijing.

Hari kedua di Beijing, kita ke Great Wall. Yeayyy!
Great Wall, We are coming. Hahaha.. #lebay

Kita ke Badaling Section, Great Wall. Konon jalur inilah yang termudah. Seru!
Mungkin perjalanan ke Great Wall ini akan saya tuliskan dalam cerita tersendiri.

Karena ini musim dingin, saya kedinginan banget selama di Great Wall. Soalnya pas kita di Great Wall, pas hujan salju turun juga. Kita bahkan sempet ngalamin jarak pandang yang sangat pendek, ga kliatan apa-apa, palingan cuma sebatas 2 meter ke depan aja.
Jadi saran saya, kalo mau puas fotoan narsis, datanglah ke Great Wall pada 3 musim lainnya selain musim dingin.



Hari ketiga di Beijing kita ke; 1) Forbiden City, 2) Tiannamen Square dan pergi belanja oleh-oleh setelahnya sampe malem.

Ada kejadian lucu bin deg-deg’an di hari ketiga kita di Beijing. Dalam perjalanan dari Forbiden City ke Tiannamen Square, kita sempet “nyasar” karena sotoy ngikutin petunjuk peta yang kita ambil dari hotel. Alih-alih mencoba menikmati perjalanan, kita fotoan di jalanan yang lucu dan keren untuk di foto. Tapi ga’ sampe 50m dari tempat kita foto, kita di stop sama tentara yang lagi jaga di depan gedung yang menurut pengamatan saya, gedung pemerintahan. Entah apa karena saya sama sekali buta tulisan China dan ga menemukan sama sekali tulisan latinnya. Dia minta liat foto yang tadi kita ambil dan kemudian foto itu dihapus.
Hiks, agak menyesali insiden penghapusan foto itu. Tapi ga bisa protes. Takut malah berbuntut panjang. Saya cuma pengen balik ke Indonesia utuh. Pergi sehat, pulang selamet. Udah itu aja.
Di waktu istirahat setelahnya, saya baru menyadari kalau kita tadi foto di depan departemen pertahanannya China. Mungkin, termasuk yang dilarang untuk difoto dan diedarkan diinternet. Mereka tau kita turis dan narsis, jadi kejadian penghapusan foto itu adalah antisipasi untuk tersebarnya lokasi dan situasi di tempat tersebut. Ampun om tentara, sesungguhnya kami ga tau kalo ga boleh foto disitu.

Selepas belanja oleh-oleh, saya langsung final packing, mandi dan cuss ke airport buat balik ke Indonesia. Penerbangan balik saya jam 4 pagi. Tapi saya udah sampe di airport 11 malem. Nunggu di airport is better than saya telat karena kesiangan bangunnya. Saya naik kereta ke airport pake kereta yang terakhir. Beruntung saya masih bisa ngejar nih kereta. Temen saya ga keuber dan akhirnya harus naik taksi. Dia ngeluarin ongkos lebih mahal 5 kali lipat dari ongkos yang saya keluarkan untuk ke airport.

Penerbangan balik transit kembali di KL.

Ada sebagian asa yang tertinggal di China. Asa untuk lebih lama menjelajah dan mengunjungi tempat bersejarah dan berpengaruh pada kemajuan peradaban dunia, pada perkembangan kebudayaan di Indonesia.
Semoga Tuhan selalu menyehatkan saya dan memampukan saya untuk kembali kemari atau ke tempat lainnya untuk terus memperkaya jiwa. Aamiin.



Thursday, March 09, 2017

Winter Trip - China



Dari sekedar wacana mau liat salju, sampai episode berburu tiket demi mewujudkan mimpi, sebenernya video ini terlalu singkat untuk menggambarkan semuanya.
Cuma satu pesennya, kalau emang udah mimpi, wujudkanlah!
Mimpi itu untuk dicarikan cara agar bisa diwujudkan, bukan disimpan di dalam relung jiwa dan tetap menjadi mimpi sampai akhirnya disesali kemudian.
Just watch this video and enjoy :)

Tuesday, January 24, 2017

Feel Free to Get Lost, One Day in Xi'an

Bagi saya pribadi, setiap perjalanan yang saya lakukan adalah sebuah petualangan. Bahkan untuk perjalanan ke suatu tempat yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya pun, akan menjadi sebuah petualangan. Hal ini bisa jadi karena beda travel mates, atau beda lokasi tujuan walau masih di satu kota yang sama.

Jangan bayangkan petualangan ala Indiana Jones di film nya. Petualangan bagi saya cukup keluar dari rutinitas harian dan mengalami hal baru. Hal baru inilah yang biasanya jadi mendebarkan. Sesuatu yang mendebarkan bagi saya sudah sama sensasinya dengan berpetualang seperti dalam gambaran orang-orang.

Dalam perjalanan saya belum lama ini, ada satu hari saya punya waktu sendirian. Hal ini karena ada satu lokasi yang sangat ingin saya kunjungi yang tidak dikunjungi oleh teman seperjalanan saya. Jadilah hari itu saya berpetualang sendirian mencari Terracotta Museum.

Perjalanan menemukan Terracotta Museum menurut saya cukup menegangkan. Bayangkan, saya berada di suatu tempat yang bahasanya tidak saya mengerti sama sekali, baik lisan maupun tulisan. Mereka pun tidak mengerti bahasa yang saya ucapkan. Bahkan ketika saya berbicara dalam bahasa Inggris pun, susah sekali menemukan orang yang mengerti apa yang saya tanyakan, begitupun sebaliknya; susah sekali saya mengerti apa yang mereka maksud. Ahhh rasanya saya lost in translation.
Saat itu saya juga tidak bisa mengandalkan google map sama sekali. Google diblokir oleh pemerintah China.
Saya mengandalkan hasil screenshoot HP teman saya yang dikirimkannya melalui what's app. Isinya mengenai rute perjalanan yang dituliskan oleh orang-orang yang sudah pernah ke Terracotta Museum

Permasalahan bermula dari semua data yang terkirim adalah dalam bahasa Indonesia, padahal stasiun dan terminal yang saya tuju, ditulis dalam huruf China dan mereka punya penamaan sendiri dalam bahasa mereka untuk menyebut Terracotta Museum itu. Perlu diketahui, mereka menyebut Bing Ma Yong untuk Terracotta Museum.

Dalam petunjuk, saya harus ke Xi'an Railway Station lalu mencari pemberhentian bis no 5 (306). Bis inilah yang akan membawa saya ke Terracotta Museum. Simple yaa?
Tapi kenyataannya tidaklah se-simple itu.
Yaaa, karena saat saya sudah di dalam metro subway, ga ada yang tau dimana Xi'an Railway Station. Boro-boro untuk menanyakan lokasi bis no 5 (306) itu?
Pencarian ini makin sulit karena orang-orang yang ditanya tidak mengerti apa yang kita tanyakan, dan kita pun tidak tau apa yang mereka maksud. Seperti yang saya jelaskan di atas. Dalam kasus saya, saya sampai diantar oleh salah seorang penjaga di stasiun ke pos informasi, dimana disana ada yang bisa bahasa Inggris, tentu saja. Saya pun dituliskan huruf-huruf dalam tulisan China, sehingga saya dapat menunjukkan tempat yang dimaksud oleh saya pada orang yang saya tanya. Atau saya dapat menyamakan tulisan tersebut pada papan informasi yang ada.
Alhasil, setelahnya saya seperti seorang pramuka yang mencari jejak.

Dalam mencari jejak ala saya, saya juga mengandalkan feeling dan kebiasaan orang. Jadi, memperhatikan kebiasaan orang itu ternyata bisa berguna juga. Memperhatikan orang itu ga melulu kepo, hehe..

Dibawah ini saya akan memberikan tips dan arahan arah yang menurut saya mudah untuk diikuti oleh orang yang akan mencari  Terracotta Museum, bahkan jika petunjuk ini dipakai dengan benar, bisa jadi ga perlu bertanya lagi pada penduduk sekitar. Karena bertanya disini pada akhirnya bisa membuat kita pusing menterjemahkan apa yang mereka maksud.

Dari lokasi dimanapun kamu berada di kota Xian, carilah stasiun subway terdekat dan pergilah ke Wulukou. Wulukou yaa, bukan Xi'an Railway Station.
Wulukou ini berada di dalam jaringan metro subway line 1, sedangkan Xi'an Railway Station itu adalah stasiun untuk kereta jarak jauh, kereta keluar kota. Jadi, itu adalah 2 lokasi yang berbeda yaa.. Jangan sampai salah yaa..
Kalau kamu pengguna commuter line, kamu sudah akan familiar dalam pencarian jalur dan menemukan stasiun yang saya maksud. Kalau kamu tidak familiar dengan sistem jalurnya, ingatlah kalau Wulukou ini ada di line 1 (berwarna biru). Jadi jangan sampai salah jalur dan warna
Di bawah ini, ada tulisan Wulukou dalam tulisan China. Bisa dicocokkan untuk memastikan kamu berada di stasiun yang benar.



Ketika sudah sampai di Wulukou, perhatikan pintu keluarnya. Kita ambil exit D, ke arah Xi'an Railway Station. 
Mengambil exit D itu adalah yang paling simple untuk menuju terminal bis yang akan kita tuju. Setelah keluar dari exit D, kita perlu berjalan kurang lebih 200m lagi.
Kemana kita harus berjalan? Dari 8 penjuru mata angin, mana yang harus dipilih? Nah,, saat itu saya mengandalkan feeling saya untuk menentukan kemana saya harus melangkah. Saya, mengikuti mereka yang membawa koper dan mereka "yang terlihat akan pergi jauh". Yaa, karena kita menuju terminal bis dimana terminal tersebut berada di depan Xi'an Railway Station, dimana orang akan pergi keluar kota, jadi hal yang paling mudah untuk menentukan kemana saya melangkah adalah mengikuti mereka-mereka itu.



Setelah sampai di terminal bis, masuk dari pintu utama lalu belok kanan dan lurus saja. Tidak lama setelah belok kanan itu, akan terlihat pemberhentian bis seperti dalam gambar di bawah ini.
Naik saja, bayarnya nanti di atas. Bis ini harga 7 Yuan untuk sampai di Terracotta museum. Paling murah diantara bis-bis lain disitu yang menuju Terracotta museum juga.


Selamat Berpetualang!!


Tuesday, September 13, 2016

Kolam Renang Rasa Pantai di Treasure Bay Bintan

Kolam renang terbesar di Asia Tenggara ada di Indonesia. Tepatnya berada di Lagoi, Bintan.
Dimana itu?

Lagoi adalah salah satu nama daerah di pulau Bintan. Pulau Bintan ini sendiri sebenarnya lebih popular di negara tetangga. Kebanyakan yang datang ke Bintan adalah warga Singapura dan Malaysia, Johor Bahru khususnya. Warga Indonesia yang datang kesini rata-rata adalah penduduk Batam.
Ya, hal ini karena letak pulau Bintan itu sendiri yang memang berada di gugus terluar dari propinsi Kepulauan Riau, salah satu propinsi yang ada di Indonesia. Setiap sejam ada kapal dari dan ke Batam, ke Singapura ataupun Johor Bahru. Sedangkan untuk penerbangan dari Jakarta hanya ada dua kali dalam sehari. Bisa dimaklumi kan bila pengunjung terbanyak malah justru dari dua negara tetangga yang saya telah sebutkan di muka.

Bintan terutama pantai Lagoi dan Treasure Bay nya itu baru menarik perhatian saya lebih dalam setelah dua bulan lalu saya menyaksikan iklannya di subway metro di Seoul. Iklan wonderful Indonesia yang salah satunya menampilkan Bintan.

Treasure Bay adalah kolam renang seluas 6.3H yang di desain serupa dengan pantai, landai dan semakin dalam ke tengahnya. Air nya pun sedikit asin, sama seperti air laut. Dasarnya adalah fiber, bukan pasir. Hal ini membuat air terlihat biru jernih seperti kristal. Pasir yang sebenarnya pasir hanya ada di pinggiran kolam renangnya saja.

Kolam renang ini dilengkapi juga dengan penginapan di pinggir kolam yang berkonsep perkemahan. Ada kapal yang bertenaga surya dan permainan air lainnya. Tidak lupa pengelola juga menyediakan tempat makan yang pembayarannya menggunakan deposit yang sudah dibayarkan terlebih dahulu di loket.
Dengan semua fasilitas tersebut, tentunya pengelola ingin menjadikan kolam renang Treasure Bay ini sebagai sebuah one stop rekreasi keluarga.




Secara keseluruhan, tempat ini menarik untuk dikunjungi. Tidak ada yang tidak bagus disini. Namun rasanya, kolam renang Treasure Bay ini hambar karena disajikan di sebuah pulau dengan pemandangan yang menawan seperti Bintan. Dan Lagoi adalah sebuah daerah wisata yang terkenal di Bintan karena pesona alamnya itu sendiri. Tentu sangat seru bila kita menikmati pantai dan laut yang indah dan memesona dalam arti yang sesungguhnya. Bayangkan bersantai di pantai yang beratapkan langit biru yang cerah. Berenang di laut yang jernih dengan ombak yang bersahabat dan matahari yang selalu bersinar sepanjang tahun. 

Tentunya akan menarik jika kolam renang dengan konsep ini ada di wilayah yang sama sekali jauh dari akses ke laut. Atau di negara 4 musim, dibuat dengan konsep in-door space. Sehingga kita tetap bisa berenang dan bersantai walau di musim dingin. Namun demikian, menikmati Treasure Bay di Bintan juga tak kalah menariknya. Kita dapat mencoba menikmati kolam renang dengan rasa pantai yang sesungguhnya.



Tuesday, August 16, 2016

Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI



Judul : Kedai 1001 Mimpi : Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI
Penulis : Valiant Budi
Penerbit : Gagas Media
Cetakan I : 2011
Tebal : 444 halaman + xii


"Kita ini konon pahlawan devisa. Tapi kalau mati, ya sudah, dianggap binatang saja."
"Saya datang untuk mempertebal iman, bukan jadi mainan."
"Datang kesini itu harus siap 'dijajah'. Baik jiwa maupun raga.'
"KAMU tidak perhatikan, banyak orang MATI karena terlalu BANYAK TAHU?"

Kutipan di atas adalah beberapa kalimat yang ada di dalam buku Kedai 1001 Mimpi. Terbaca sadis, yaa?! Namun bila kita membaca buku ini secara keseluruhan, kalimat di atas tidak aneh bila sampai terlontar dari mulut mereka, para buruh migran Indonesia di Arab Saudi yang konon katanya adalah para pahlawan devisa bagi negara ini.

Buku ini saya dapatkan dari seorang temannya teman saya dalam sebuah ajang tukar buku, Buku bekas dalam kondisi masih layak baca. 
Dari pertama membuka halaman pertama dan membacanya, saya merasakan kecanduan yang teramat untuk terus membaca dan membuka halaman selanjutnya.
Tutur bahasa dan kalimat yang digunakan oleh penulis untuk menceritakan pengalaman pribadinya begitu lugas dan mudah dimengerti oleh pembaca. 

Penulisnya, Valiant Budi (@vabyo) bukanlah seorang buruh migran "biasa" menurut saya. Sebelumnya dia adalah penyiar radio dan penulis. Keputusannya untuk menjadi buruh migran Indonesia di Arab Saudi didasarkan kecintaannya akan kisah 1001 malam dan keinginannya untuk berpetualang mencoba hidup di negara lain.

Cerita dalam buku ini bermula dari perjalanan Vibi, panggilan sang penulis melamar pekerjaan di luar negeri. Proses yang panjang dan penantian yang lama sampai akhirnya dia berangkat ke sebuah kota di pinggir laut Persia dan bekerja sebagai seorang barista di sebuah coffee shop berskala internasional yang ada disana. 
Banyak nama dan tempat yang disamarkan dalam buku ini oleh penulis. Namun bagi saya, tidak susah untuk menebak bahwa coffee shop tempat penulis bekerja di Saudi adalah Starbucks.
Selama bekerja disinilah tulisan dalam buku ini bercerita. Dari mulai hari pertama yang berat, pelanggan yang ajaib, teman-teman kerja yang tak kalah ajaib dan persahabatan penulis dengan sesama orang Indonesia disana.

Banyak pembelajaran yang bisa dipetik dari membaca buku ini. Untuk orang yang terlalu mengagungkan bangsa Arab, silahkan baca dan pahamilah kalau Islam bukanlah Arab dan juga sebaliknya. Sebuah kekeliruan massal yang sering dipahami salah oleh orang Indonesia kebanyakan. 
Islam adalah agama, dan Arab serta budayanya itu berbeda. Dalam buku ini banyak dijelaskan perbedaan keduanya. Lagipula, sejak kapan Islam = Arab? 
Bahkan dalam buku ini penulis menuliskan dengan gamblang tentang berbagai macam budaya Arab yang jelas-jelas bertentangan dengan Islam. Dari mulai cerita tentang kekerasan yang dilakukan terhadap perempuan, zinah, bahkan prilaku homoseksual yang terjadi disana. Vibi-pun pernah menjadi korbannya; dari mulai supir taksi, om-om pelanggan coffee shop nya sampai orang yang tidak dikenal yang dia temui di jalan.

Hal yang menyedihkan sepanjang membaca buku ini yang saya rasakan adalah saat penulis menjelaskan bagaimana Indonesia selalu dianggap sebagai negara miskin dan hanya berisi orang-orang bodoh. 
Vibi yang berhasil menjadi supervisor pertama dari Indonesia itu dianggap ajaib karena banyak dari rekan senegaranya hanya mampu bekerja di sektor informal, menjadi PRT atau supir. 
Ada sebuah kalimat penjelasan yang dituliskan oleh penulis pada halaman 426 yang membuat saya terharu sekaligus tegas mengiyakan:
"Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain."

Secara keseluruhan buku ini sangat bagus untuk dibaca. Menyadarkan kita akan sisi dunia lain yang sayang nya sering kali kita terlena dengan pikiran kita sendiri tanpa tahu pasti kenyataannya. Buku ini khas, karena mengangkat sebuah hal yang serius; dunia buruh migran dan segala permasalahannya, tapi disajikan dengan gaya lugas nan kocak. 
Jika harus memberi rating dengan bintang-bintang seperti dalam aplikasi ojek online, saya akan memberikan bintang 4 dari 5 bintang yang ada. 


Thursday, August 04, 2016

Hello Summer, Hello the World

Sebagai seorang yang suka jalan, saya sangat berharap bisa berkeliling dunia dan mengunjungi daerah-daerah cantik di belahan bumi sebelah manapun. Belajar mengenai kebudayaan dan berbaur dengan penduduk lokalnya.
Sebuah harapan besar yang terus saya hidupkan setiap harinya. Tentunya membutuhkan banyak waktu dan uang serta tenaga. Hal ini agak sulit untuk dilakukan oleh saya yang seorang pekerja, dan terikat dengan rutinitas sehari-hari.

Tapi mimpi bukan harus diwujudkan?
Ya, memang!
Caranya adalah dengan bangun dari tidur, berkegiatan dan berupaya sekuat tenaga untuk mewujudkannya.

Pernah dengar banyak jalan menuju Roma?
Kalau pernah, berarti percaya kan kalau banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan mimpi kita tersebut?
Tinggal bagaimana kita menyikapi segala peluang yang ada.

Berbicara tentang peluang dan harapan untuk dapat mewujudkan keinginan untuk dapat berkunjung ke tempat-tempat cantik di belahan bumi lainnya, bulan lalu saya berhasil memanfaatkan peluang yang ada untuk dapat bepergian secara gratis.
Yes, for free alias gratis.



Dalam kasus saya, saya mendaftar sebuah pelatihan khusus untuk para pekerja yang bekerja di bidang gender equality untuk meningkatkan skill kepemimpinannya dalam women movement. To be the next women leader gitulah. Full funded by UN Women yang diselenggarakan oleh EWHA Womans University di Seoul, Korea. Ketika saya tuliskan full funded, udah tau dong kalau semua biaya yang saya keluarkan sudah pasti ditanggung oleh pihak penyelenggara.

Ini bukan satu-satunya cara. Banyak jalan menuju Roma (again). Kalau kamu masih berstatus mahasiswa, kamu bisa ikut kegiatan pertukaran mahasiswa. Ada juga konferensi internasional yang bisa diikuti. Banyak juga yang sukses bepergian ke negara-negara lain dengan jalur beasiswa. Intinya, terus liat peluang yang ada dan manfaatkan sebaik mungkin untuk pengembangan diri.
There is a will, there is a way. And welcome to the world!




Friday, June 24, 2016

Negeriku, Negeri Laskar Pelangi

Indonesia itu indah kawan, maka menjelajahlah!

Pernah baca novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata? Nah, itulah hebatnya menjadi penulis; dari sebuah tulisan di dalam bukunya, Ia bisa meningkatkan jumlah wisatawan yang datang di daerah yang diceritakannya.
Novel laris, kemudian di film kan. Film dengan sinematografi yang baik, ditonton jutaan orang, maka dapat dipastikan, lokasi yang masuk dalam cerita akan jadi booming kemudian.
Yaa, itulah yang terjadi dengan Belitung. Negeri indah di wilayah barat Indonesia.
Dahulu, Belitung adalah sebuah pulau yang terkenal dengan tambang timahnya. Namun hari ini, banyak yang kesana untuk mengunjungi pesona alamnya yang luar biasa.

Belitung secara geografis tidak jauh dari Jakarta, hanya berselang 40 menit dengan penerbangan langsung dari bandara Sukarno Hatta di Cengkareng. Jaraknya yang tidak terlampau jauh dari Jakarta inilah yang membuat Belitung banyak dikunjungi oleh warga Jakarta yang sekedar ingin short escape dari rutinitas sehari-harinya.

Banyak hal yang bisa dilakukan disini, melakukan wisata bahari atau mengagumi kekayaan budayanya. Bahkan kita juga bisa mengunjungi tempat-tempat dimana dilakukan shooting film Laskar Pelangi yang fenomenal pada jamannya itu. Namun dari kesemua itu, wisata bahari-lah yang menjadi highligt perjalanan saya dan teman-teman pada liburan bersama sebelum puasa kali ini. Kami menghabiskan sehari penuh untuk snorkeling dan berenang di laut serta bermain di pulau-pulau kecil yang cantik dan pantainya yang indah.
Laut yang mengelilinginya cenderung tenang karena berada di antara kepulauan. Pemandangan yang cantik dengan hamparan batu-batu besar di pantainya.

Dalam pertanyaan iseng, terbesit bagaimana batu itu bisa ada disana? Apakah pada masa jaman dahulu kala, Zeus yang memindahkannya kesana? Hahaha.. Pertanyaan konyol yang tidak perlu dijawab..
Yaa, begitulah kuasa Tuhan untuk keindahan bumi Indonesia.



Friday, April 22, 2016

My Life, My Adventure

Menelusuri jalan berbatu dengan dibonceng abang ojek naik ke puncak Tebing Kraton emang ga mudah. Jalanannya terjal. Pegangannya bingung. Ga pegangan, kemungkinan jatohnya akan lebih besar.
Hiiiii, syerem bin menegangkan deh.
Tapi, syerem mana dibanding dengan naik ojek menembus macetnya Jakarta?
Jakarta is the real adventure in my life. Sure*B-) cool

Pengalaman syerem plus uji nyali lainnya yang saya miliki lainnya adalah ketika mendatangi Curug  Sawer di kaki gunung Pangrango, Sukabumi. Perjalanan malam, jalan yang terjal-berliku-berbatu tanpa penerangan yang baik. Hanya bermodal senter dari power bank yang saya bawa. Deg-deg an antara jatoh atau dicolek mahluk 'tak berwujud. Hiiii... *:->~~ spooky
Ya, mahluk-mahluk tidak berwujud itu memang menyeramkan. Entah, apa sebenarnya yang menakutkan. Toh, kita tidak melihatnya. Pikiranlah yang menurut saya menyuruh kita takut akan benda tak berwujud tersebut.
Lalu, bagaimana dengan cerita pulang malam melewati jalan rawan begal? Mereka berwujud, dan nyata jahatnya. Tapi, terkadang saya pulang larut malam dan tidak menggubrisnya. Memilih menikmati hidup, atau bersilaturahmi dengan teman-teman hingga malam dan tetap pulang dengan beraninya. Yaaa, kadang berani dan nekat itu memang beda tipis. *:| straight face

Ada cerita perjalanan menegangkan lainnya. Yaitu ketika mencari camping ground di pelataran Curug Cijalu. Perjalanan ini menegangkannya, karena mobil yang kami kendarai harus menembus perkebunan teh, jalan berbatu tak berlampu penerangan. Gelap! Diperparah dengan tidak satupun orang di mobil itu yang tau jalan. Kemungkinan terjerumus ke dalam jurang sangat mungkin dialami. Lurus bukan berarti jalan yang benar karena mungkin saja ternyata di depan adalah jurang. Namun, kita tetap harus membuat pilihan, tetap maju atau mundur.
Pernah merasakan hal itu dalam kehidupan nyata?
Kalau saya sering. Hehe.. *:D big grin
Hidup itu penuh dengan pilihan. Ketika pilihan yang ada adalah tetap maju dengan segala resiko yang ada atau mundur dan menjadi pecundang, pasti milihnya maju doongg. Namun ternyata, majupun kita tidak tahu apa yang akan dihadapi di depan.
Be brave! Maju terus pantang mundur! Karena waktu tuh berjalan ke depan, ga ada yang mundur. Make it simple and enjoy your life like an adventures. *;) winking

Ahhhh,, yaa begitulah hidup *;) winking
Panik dan menegangkan ketika dijalani, namun manis dan indah ketika dikenang.
Kalau mau dikupas satu persatu, ada saja bagian dari hidup yang terasa seperti petualangan yang menegangkan. Bahkan mungkin lebih menegangkan dari petualangan itu sendiri.

Bagi saya pribadi, perjalanan hidup yang saya lalui setiap harinya adalah sebuah petualangan. Tidak melulu harus melakukan trip terlebih dahulu, lalu baru merasa bahwa kita telah menjalani sebuah petualangan nan menegangkan, seperti slogan dari sebuah acara jalan-jalan nan di sebuah televisi swasta, "My Trip My Adventure".
For me, my life is the real adventure. My trip is just make my adventure complete. So, I never compare my life to the another one. Just love it, just the way it is*:x lovestruck*:x lovestruck*:x lovestruck





Friday, March 11, 2016

Kelimutu, Jauh di Mata masih di Indonesia


Kelimutu terletak di Desa Moni, beberapa puluh kilometer dari Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ya, danau 3 warna ini berada di Kelimutu National Park, sebuah taman nasional yang berada di Indonesia timur.

Danau 3 warna ini pada hakikatnya bukanlah danau, tetapi kawah yang berada di puncak gunung Kelimutu. Warna tiap-tiap danaunya adalah putih pucat, hijau kebiruan, dan merah. Namun pada saat saya kesana, danau yang berwarna merah, berubah warna menjadi coklat tua. Diyakini oleh penduduk sekitar, perubahan warna danau ini berhubungan dengan situasi yang akan terjadi, baik di sekitar danau tersebut atau secara global. Mereka meyakini perubahan kali ini bisa jadi karena akan ada fenomena gerhana matahari total yang melintasi Indonesia.

Masih berhubungan dengan kepercayaan penduduk sekitar, danau-danau ini dipercaya sebagai tempat berpulangnya arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Pembagiannya berdasarkan usia, yaitu danau orang tua (berwarna putih pucat) dan danau untuk orang muda/ anak-anak (berwana hijau kebiruan) . Danau yang satu lagi, dipercayai menampung arwah orang-orang jahat (berwarna merah). Masuk ke area taman nasional juga tidak sembarangan, terlebih dahulu kita harus pamit dengan "penjaga" nya yang dipercaya juga sebagai gerbang masuk Kelimutu.

Bagi saya, perjalanan menuju Kelimutu adalah sebuah perjalanan panjang. Hmmm, sebenarnya tidak sepanjang itu juga sih, tidak sampai harus menyebrangi benua dan mengarungi tujuh samudra. Namun, perjalanan ke Indonesia bagian timur memang tidak sedekat di dalam peta. Juga tidak semudah men-scroll gambar-gambar instagram di HP dan menikmati keindahan dari segala penjuru dunia. Dapat saya singkat menjadi satu kalimat, yaitu : "Butuh effort."

Jadi, dari Jakarta ke Kelimutu, bandara terdekat yang harus dituju adalah bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Jakarta ke Ende bisa transit di Denpasar atau di Kupang karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Ende. Dari Ende, kita harus ke Moni, desa terdekat dengan puncak Kelimutu. Selanjutnya kita bisa tracking ke puncak Kelimutu. Tertulis di peta 13KM. Tentunya jalur tersebut adalah jalur menanjak. Jika kita sewa mobil dari Ende ke Moni, tentu kita bisa minta diantarkan sampai ke pelataran parkir taman nasional. Selepas itu baru kita tracking menuju puncak Kelimutu.

Perjalanan dari parkir taman nasional ke puncak Kelimutu bisa ditempuh kurang lebih 45 menit sampai dengan satu jam. Itu estimasi waktu untuk saya yang berjalan santai dan sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat. Tentu perhitungan waktu untuk tiap orang bisa saja berbeda. Jalanannya dalam kondisi baik. Bahkan di beberapa tempat yang mengharuskan kita menanjak, sudah ada tangga yang mempermudah kita mencapai puncak.

Dari Ende ke Moni, ada dua alternatif transportasi yang bisa diambil. Pertama, sewa mobil harian ataupun sewa lepas (hanya mengantarkan ke Moni) atau jalan kedua kita bisa naik angkutan umum. Kalau pilihannya adalah menggunakan angkutan umum, maka kita harus ke terminal terlebih dahulu, lalu naik bus antar kota tujuan Moni.

Jika kita pergi dalam grup, tentu lebih hemat dan efisien bila menyewa mobil secara harian. Sewa mobil bisa dilakukan di bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Keluar dari bandara sudah banyak orang yang menawarkan jasa penyewaan mobil. Rata-rata mereka sudah bersepakat mengenai harga dengan sesamanya, jadi dari supir yang satu ke yang lain, harganya cenderung sama.

Balik ke judul di atas, dengan mengasumsikan tidak ada penerbangan yang delay, waktu transit yang cepat, langsung menemukan sewa mobil yang cocok, tidak ada hambatan jalan yang tertutup akibat longsor atau apapun kendala-kendala lain yang bisa saja muncul, perjalanan ini bisa ditempuh dalam waktu sehari penuh. Silahkan tambahkan tambahan waktu tersendiri untuk setiap hambatan yang muncul selama perjalanan atau kelebihan waktu akibat pilihan jalur yang memakan waktu lebih lama. Karena itulah, bagi saya Kelimutu itu jauh di mata, walaupun masih di Indonesia.



Menyesal pergi ke Kelimutu?
Sama sekali tidak!
Bahkan apabila ada kesempatan lain sehingga saya dapat mengunjunginya lagi, saya akan langsung packing dan bergegas pergi ke Kelimutu.
Because for me, Kelimutu it's so awesome!
Sebagai manusia, saya mengagumi keindahan cipataanNYA. Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa beruntung Kelimutu ada di Indonesia *:x lovestruck