Jakarta, 22 April 2018
Dear adik-adikku tersayang,
Sebagai kakak, saudara yang mengetahui bahwa engkau akan menikah muda, di usia sekolahmu, aku tentu sedih. Mengapa kau korbankan masa sekolahmu untuk sebuah perkawinan, yang bahkan engkau sendiripun tidak mengetahui apa hakikat sesungguhnya.
Dek, masa kanak-kanakmu itu untuk sekolah, untuk belajar, untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi indah dan harapan-harapan baik. Lakukan itu!
Sesungguhnya perkawinan itu bukan sebuah permainan peran yang dulu kau mainkan saat bocah. Bukan sekedar; 'aku jadi ibu, dia jadi bapak dan mereka yang jadi anak-anaknya.' Bukan, bukan permainan peran seperti itu. Perkawinan yang sesungguhnya jauuuhhh lebih rumit dari itu. Usiamu belum pada tahap yang baik untuk melakukannya. Demi kesehatanmu, demi perkembangan mentalmu.
Dek, mungkin ibu bapakmu memaksamu menikah. Kata mereka, ini demi masa depanmu. Agar kamu tidak selalu berada dalam situasi miskin yang berkepanjangan. Tahukah kamu dek, kamu masih berhak untuk tetap menjadi anak-anak. Tetap menikmati menikmati semua hal yang seharusnya dinikmati anak-anak, antara lain; pendidikan. Pendidikan itu jugalah dek yang bisa mengeluarkan kamu dari kemiskinan itu sebenarnya.
Kamu harus berjuang untuk pendidikanmu jika kamu ingin keluar dari kemiskinan. Hanya pendidikan yang mampu mengeluarkanmu dari kemiskinan, bukan perkawinan!
Perkawinan akan makin membuatmu terseret ke dalam kemiskinan yang terus menerus.
Dengan pendidikan, kamu bisa mengeluarkan dirimu dan keluargamu dari kemiskinan. Bahkan kamu bisa mengentaskan kemiskinan di masyarakatmu, daerahmu, dan negara Indonesia yang kita cintai ini.
Dek, belajar yang giat. Sekolah setinggi-tingginya. Raih dan manfaatkan semua kemampuan yang kamu bisa. Sesungguhnya dek, pendidikan adalah investasi terbaik yang bisa kamu lakukan. Investasi yang tidak ada kata merugi.
Dek, semoga surat ini bisa membuka pikiran dan cakrawalamu tentang guna pendidikan untuk masa depanmu. Semoga dengan membaca surat ini, kamu tidak menjadikan perkawinan sebagai satu-satunya jalan keluar yang bisa kamu tempuh untuk semua permasalahan hidupmu saat ini. Semoga kamu juga bisa memberikan pengetahuan untuk ibu dan bapakmu agar mereka tidak cepat-cepat menikahkanmu.
Teriring doa dan harapan-harapan baik agar kamu dapat menjadi anak bangsa yang membanggakan dan bermanfaat untuk keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Salam sayang dari saudara perempuanmu, yang selalu mencintaimu.
Triana Komalasari
Tuesday, April 24, 2018
Thursday, March 08, 2018
Bercerita Kisah Cinta antara Cinta-Rangga dan Tita-Adit
Dua tahun yang lalu akhirnya AADC2 tayang, setelah 14 tahun kemunculan AADC. Pada masanya, pasangan Cinta dan Rangga ini selalu sukses bikin anak remaja seusiaku dulu baper. Bahkan tidak jarang remaja putri menjadikan Rangga sebagai salah satu kriteria cowo pilihannya.
Setelah AADC2, banyak yang kembali bernostalgia dengan kisah cintanya Cinta dan Rangga. Bahkan saya dan beberapa teman SMA sampai melakukan perjalanan ke Jogya guna melakukan napak tilas pertemuan kembali Cinta dan Rangga. So insane but fun, haha..
Back then, film AADC2 saya tunggu dengan penasaran yang teramat sangat ternyata tidak terlalu sukses memenuhi perasaan cinta yang membuncah seperti zaman saya SMA saat menonton AADC pertama kalinya.
Hmmm,, sempat berpikir apakah karena saya bukan lagi remaja naif?
Terlepas dari semua perkiraan yang sempat bersliweran, film tersebut sukses membawa nostalgia masa remaja. Dan nostlagia akan Jogya dan genk nya Cinta tentu saja.
2 tahun berselang, akhirnya muncullah Eiffel I'm in Love 2. Sebuah film yang dulu tayang ga jauh berselang dari penanyangan AADC. Juga sama-sama sukses menjaring penonton remaja. Film-film ini memang termasuk dalam jajaran film bagus dalam kebangkitan kembali perfilman Indonesia yang sebelumnya sempat mati suri lama.
Berangkat dari keinginan untuk nostalgia, hal yang sama yang terjadi saat kemunculan AADC2, maka saya akhirnya menonton Eiffel I'm in Love 2.
Berbeda dari AADC2, saya sempatkan untuk nonton AADC sebelum menonton AADC2, saat menonton Eiffel I'm in Love 2 ini, saya tidak mendahuluinya dengan menonton film Eiffel I'm in Love terlebih dahulu. Jadi, ada beberapa tokoh yang harus saya ingat-ingat kembali keberadaannya di film sebelumnya. Untungnya ingatan saya masih dalam kondisi yang baik. Hehe...
Dari segi acting kedua pasangan ini tentu saya lebih mengidolakan pasangan Cinta Rangga. Tidak ada alasan, lebih karena saya mengidolakan keduanya sejak lama saja sebenarnya.
Namun dari keseluruhan cerita film nya, dimana keduanya sama-sama merupakan kelanjutan dari film dengan judul yang sama belasan tahun sebelumnya, saya lebih menyukai film Eiffel I'm in Love 2.
Ada cerita yang lebih kuat mengapa Tita dan Adit masih mempertahankan kisah cinta mereka walau jarak dan waktu terentang begitu jauh. Alasan mengapa belum juga menikah sampai 12 tahun berselang setelah mereka mulai berpacaran juga masuk akal. Ada kisah perjuangan cinta dan saling pengertian yang sangat besar diantara keduanya. Walau pertengkaran kocak khas mereka masih ada di film lanjutannya.
Bahkan saat Adit mengatakan belum bisa menikahi Tita tahun ini, alasannya pun saya pahami dan saya maklumi.
Dalam kisah cinta Cinta dan Rangga, ada alasan yang bagi saya tidak bisa diterima akal mengapa mereka berdua putus begitu saja setelah 5 tahun kisah cinta LDR mereka. Bahkan bagi Cinta dan genk nya, alasan Rangga meninggalkan Cinta dan menimbulkan luka berkepanjangan di hati Cinta pun tidak bisa serta merta mereka terima begitu saja. Lucunya (disini yang menurut saya tidak masuk akal), betapa Cinta yang begitu terluka, akhirnya dalam kisah sehari semalam saja di Jogya, dia bisa mengubah keputusan hidupnya.
Cinta bahkan meninggalkan tunangannya dan pergi ke New York menyusul Rangga. Hmmm,, kelemahan khas perempuan kentara disini. Entah mengapa, saya malah tidak menyukainya.
Terlepas dari semua opini yang saya tuliskan di atas, saya menyukai keduanya. Kedua film ini memberikan perasaan nostalgia yang menyenangkan. Film ini saya rokemdasikan jika ada yang menanyakan, film romantis apakah yang harus ditonton.
Tulisan ini murni opini saya sebagai penikmat film. Saya bukan reviewer profesional yang memang bertugas mengomentarinya. Jadi, silahkan saja bila ada pendapat lain selain ini. Sesungguhnya film-film ini memperkaya khasanah perfilman Indonesia. Jadi tontonlah agar film Indonesia bisa berjaya di negaranya sendiri :)
Setelah AADC2, banyak yang kembali bernostalgia dengan kisah cintanya Cinta dan Rangga. Bahkan saya dan beberapa teman SMA sampai melakukan perjalanan ke Jogya guna melakukan napak tilas pertemuan kembali Cinta dan Rangga. So insane but fun, haha..
Back then, film AADC2 saya tunggu dengan penasaran yang teramat sangat ternyata tidak terlalu sukses memenuhi perasaan cinta yang membuncah seperti zaman saya SMA saat menonton AADC pertama kalinya.
Hmmm,, sempat berpikir apakah karena saya bukan lagi remaja naif?
Terlepas dari semua perkiraan yang sempat bersliweran, film tersebut sukses membawa nostalgia masa remaja. Dan nostlagia akan Jogya dan genk nya Cinta tentu saja.
2 tahun berselang, akhirnya muncullah Eiffel I'm in Love 2. Sebuah film yang dulu tayang ga jauh berselang dari penanyangan AADC. Juga sama-sama sukses menjaring penonton remaja. Film-film ini memang termasuk dalam jajaran film bagus dalam kebangkitan kembali perfilman Indonesia yang sebelumnya sempat mati suri lama.
Berangkat dari keinginan untuk nostalgia, hal yang sama yang terjadi saat kemunculan AADC2, maka saya akhirnya menonton Eiffel I'm in Love 2.
Berbeda dari AADC2, saya sempatkan untuk nonton AADC sebelum menonton AADC2, saat menonton Eiffel I'm in Love 2 ini, saya tidak mendahuluinya dengan menonton film Eiffel I'm in Love terlebih dahulu. Jadi, ada beberapa tokoh yang harus saya ingat-ingat kembali keberadaannya di film sebelumnya. Untungnya ingatan saya masih dalam kondisi yang baik. Hehe...
Dari segi acting kedua pasangan ini tentu saya lebih mengidolakan pasangan Cinta Rangga. Tidak ada alasan, lebih karena saya mengidolakan keduanya sejak lama saja sebenarnya.
Namun dari keseluruhan cerita film nya, dimana keduanya sama-sama merupakan kelanjutan dari film dengan judul yang sama belasan tahun sebelumnya, saya lebih menyukai film Eiffel I'm in Love 2.
Ada cerita yang lebih kuat mengapa Tita dan Adit masih mempertahankan kisah cinta mereka walau jarak dan waktu terentang begitu jauh. Alasan mengapa belum juga menikah sampai 12 tahun berselang setelah mereka mulai berpacaran juga masuk akal. Ada kisah perjuangan cinta dan saling pengertian yang sangat besar diantara keduanya. Walau pertengkaran kocak khas mereka masih ada di film lanjutannya.
Bahkan saat Adit mengatakan belum bisa menikahi Tita tahun ini, alasannya pun saya pahami dan saya maklumi.
Dalam kisah cinta Cinta dan Rangga, ada alasan yang bagi saya tidak bisa diterima akal mengapa mereka berdua putus begitu saja setelah 5 tahun kisah cinta LDR mereka. Bahkan bagi Cinta dan genk nya, alasan Rangga meninggalkan Cinta dan menimbulkan luka berkepanjangan di hati Cinta pun tidak bisa serta merta mereka terima begitu saja. Lucunya (disini yang menurut saya tidak masuk akal), betapa Cinta yang begitu terluka, akhirnya dalam kisah sehari semalam saja di Jogya, dia bisa mengubah keputusan hidupnya.
Cinta bahkan meninggalkan tunangannya dan pergi ke New York menyusul Rangga. Hmmm,, kelemahan khas perempuan kentara disini. Entah mengapa, saya malah tidak menyukainya.
Terlepas dari semua opini yang saya tuliskan di atas, saya menyukai keduanya. Kedua film ini memberikan perasaan nostalgia yang menyenangkan. Film ini saya rokemdasikan jika ada yang menanyakan, film romantis apakah yang harus ditonton.
Tulisan ini murni opini saya sebagai penikmat film. Saya bukan reviewer profesional yang memang bertugas mengomentarinya. Jadi, silahkan saja bila ada pendapat lain selain ini. Sesungguhnya film-film ini memperkaya khasanah perfilman Indonesia. Jadi tontonlah agar film Indonesia bisa berjaya di negaranya sendiri :)
Tuesday, January 16, 2018
It's a Special Day
Hari ulang tahun, hari notifikasi. Hari sibuk menghadap layar HP, membalas semua notifikasi yang masuk. Hari saatnya menekan emoticon smile, tapi wajah aslinya datar. Hari dimana mesti pasrah diceplokin telor, ditaburi tepung dan dipintain traktir. Harinya party, entah merayakan apa? Bertambahnya umurkah? Atau karena berhasil melewati setahun lagi dari jatah umur kita?
Kenapa hari ulang tahun dianggap sebagai hari yang special?
Mengapa kita mengharapkan adanya suatu yang special di hari tersebut?
Jika karena berhasil melewati setahun lagi dari jatah umur kita, bukankah setiap detiknya kita harus bertahan?
Siapa yang tau akan ajalnya?
Lalu mengapa kita mengharapkan perlakuan special?
Seharusnya kita juga mengadakan ulang detik, ulang menit, ulang jam, ulang hari, ulang minggu dan ulang bulan. Maka kehidupan kita akan menjadi special setiap saat, setiap waktu.
Jika karena bertambahnya umur, seharusnya kita waspada. Usia yang bertambah adalah pengingat kepada diri bahwa raga tak bisa menolak renta. Tua adalah sebuah keniscayaan. Takdir yang harus diterima.
Jadi, special karena apa?
Karena kita ingin di perlakukan special kah?
Jika memang kita mengharapkan perlakuan special, mengapa kita tidak saling memperlakukan semua orang special setiap harinya?
Walaupun itu bukan hari ulang tahunnya.
Ulang tahun atau tidak, apa salahnya selalu berbuat baik terhadap sesama. Toh,, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai kemudian.
Hari ini adalah hari Selasa, 16 Januari 2018. Sama seperti hari lainnya. Hari yang special karena saya selalu merayakan kehidupan. Berbahagia dan bersyukur atas semua yang saya miliki.
Tidak terlalu sibuk dengan notifikasi di layar HP.
Ya, karena sejak beberapa tahun yll, saya mematikan pemberitahuan di sosmed.
Kerabat dan sahabat saya tidak pernah membutuhkan semua pengingat itu.
Mereka tetap mendoakan semua kebaikan untuk saya, tanpa saya pinta. Setiap waktunya, tidak hanya setahun sekali.
In the end, happy birthday to my self.
Kenapa hari ulang tahun dianggap sebagai hari yang special?
Mengapa kita mengharapkan adanya suatu yang special di hari tersebut?
Jika karena berhasil melewati setahun lagi dari jatah umur kita, bukankah setiap detiknya kita harus bertahan?
Siapa yang tau akan ajalnya?
Lalu mengapa kita mengharapkan perlakuan special?
Seharusnya kita juga mengadakan ulang detik, ulang menit, ulang jam, ulang hari, ulang minggu dan ulang bulan. Maka kehidupan kita akan menjadi special setiap saat, setiap waktu.
Jika karena bertambahnya umur, seharusnya kita waspada. Usia yang bertambah adalah pengingat kepada diri bahwa raga tak bisa menolak renta. Tua adalah sebuah keniscayaan. Takdir yang harus diterima.
Jadi, special karena apa?
Karena kita ingin di perlakukan special kah?
Jika memang kita mengharapkan perlakuan special, mengapa kita tidak saling memperlakukan semua orang special setiap harinya?
Walaupun itu bukan hari ulang tahunnya.
Ulang tahun atau tidak, apa salahnya selalu berbuat baik terhadap sesama. Toh,, apa yang kita tanam, itu yang akan kita tuai kemudian.
Hari ini adalah hari Selasa, 16 Januari 2018. Sama seperti hari lainnya. Hari yang special karena saya selalu merayakan kehidupan. Berbahagia dan bersyukur atas semua yang saya miliki.
Tidak terlalu sibuk dengan notifikasi di layar HP.
Ya, karena sejak beberapa tahun yll, saya mematikan pemberitahuan di sosmed.
Kerabat dan sahabat saya tidak pernah membutuhkan semua pengingat itu.
Mereka tetap mendoakan semua kebaikan untuk saya, tanpa saya pinta. Setiap waktunya, tidak hanya setahun sekali.
In the end, happy birthday to my self.
Thursday, December 21, 2017
Review 2017
2017 akan berakhir dalam hitungan hari. Ahhh,,, ga berasa yaaa...
Makin tua aja dehh.. Hahaha..
Di saat orang-orang membuat resolusi tahun baru, saya lebih suka me-review apa saja rencana saya yang sudah berhasil saya laksanakan dan rencana apa yang perlu direvisi.
And here is it,,,
1. Alhamdulillah, thank God udah kesampean liat salju dan pegang langsung.
Sebagai orang Indonesia yang lahir dan besar di daerah tropis, ngeliat langsung salju adalah cita-cita dari dulu. Tahun ini akhirnya bisa ke Harbin dan liat festival salju. Bahkan pas di Harbin, bisa mainan lempar-lempar salju segala di taman kotanya. Ini adalah pengalaman yang berharga.
Sebelumnya udah pernah ngerasain winter di Seoul. Tapi ga sukses liat dan mainan salju kayak di Harbin. Jadi, wish list liat salju baru mulai saya hitung terlaksana di tahun ini. Bukan di tahun sebelumnya pas saya ke winter an di Seoul.
2. Sampai juga di Great Wall of China dan Museum Teracotta.
Sebagai seorang yang suka jalan-jalan, saya suka sekali melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah. Saya punya beberapa nama situs warisan dunia yang dicatat dalam UNESCO world heritage yang masuk dalam wish list tempat yang harus saya kunjungi before I die. Jadi, mengunjungi Great Wall of China dan Museum Teracotta ini menambah jumlah tempat yang sudah saya kunjungi dalam list tersebut.
3. Berhasil menambah pengalaman keluar negeri gratis dan memperbagus CV.
Alhamdulillah banget. Semoga ke depannya makin banyak lagi tempat yang saya datangi dan kegiatan yang bisa saya ikuti secara gratis. Aamiin.
Sepanjang tahun ini banyak kejadian up and down yang membuat saya berpikir kembali untuk merencanakan masa depan saya. Ada beberapa hal yang akhirnya saya pikir ulang. Mundur selangkah lalu membuat lompatan saya rasa lebih bijaksana daripada memaksakan terus maju ke depan dan nyemplung ke selokan.
Semoga tahun 2018 saya menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.
Semoga cita dan cinta yang saya inginkan di ijabah sang Pemilik Hidup ini.
Aamiin.
==============
21 Desember 2017,
Raya Tengah di saat hujan,
Di pertengahan minggu yang syahdu,
Sore menjelang pulang.
Semoga tahun depan di waktu yang sama,
Tulisan review 2018 bisa saya tuliskan dari belahan dunia lainnya.
Aamiin.
Makin tua aja dehh.. Hahaha..
Di saat orang-orang membuat resolusi tahun baru, saya lebih suka me-review apa saja rencana saya yang sudah berhasil saya laksanakan dan rencana apa yang perlu direvisi.
And here is it,,,
1. Alhamdulillah, thank God udah kesampean liat salju dan pegang langsung.
Sebagai orang Indonesia yang lahir dan besar di daerah tropis, ngeliat langsung salju adalah cita-cita dari dulu. Tahun ini akhirnya bisa ke Harbin dan liat festival salju. Bahkan pas di Harbin, bisa mainan lempar-lempar salju segala di taman kotanya. Ini adalah pengalaman yang berharga.
Sebelumnya udah pernah ngerasain winter di Seoul. Tapi ga sukses liat dan mainan salju kayak di Harbin. Jadi, wish list liat salju baru mulai saya hitung terlaksana di tahun ini. Bukan di tahun sebelumnya pas saya ke winter an di Seoul.
2. Sampai juga di Great Wall of China dan Museum Teracotta.
Sebagai seorang yang suka jalan-jalan, saya suka sekali melakukan perjalanan ke tempat-tempat bersejarah. Saya punya beberapa nama situs warisan dunia yang dicatat dalam UNESCO world heritage yang masuk dalam wish list tempat yang harus saya kunjungi before I die. Jadi, mengunjungi Great Wall of China dan Museum Teracotta ini menambah jumlah tempat yang sudah saya kunjungi dalam list tersebut.
3. Berhasil menambah pengalaman keluar negeri gratis dan memperbagus CV.
Alhamdulillah banget. Semoga ke depannya makin banyak lagi tempat yang saya datangi dan kegiatan yang bisa saya ikuti secara gratis. Aamiin.
Sepanjang tahun ini banyak kejadian up and down yang membuat saya berpikir kembali untuk merencanakan masa depan saya. Ada beberapa hal yang akhirnya saya pikir ulang. Mundur selangkah lalu membuat lompatan saya rasa lebih bijaksana daripada memaksakan terus maju ke depan dan nyemplung ke selokan.
Semoga tahun 2018 saya menjadi pribadi yang lebih baik daripada hari ini.
Semoga cita dan cinta yang saya inginkan di ijabah sang Pemilik Hidup ini.
Aamiin.
==============
21 Desember 2017,
Raya Tengah di saat hujan,
Di pertengahan minggu yang syahdu,
Sore menjelang pulang.
Semoga tahun depan di waktu yang sama,
Tulisan review 2018 bisa saya tuliskan dari belahan dunia lainnya.
Aamiin.
Monday, December 11, 2017
Hutang Maaf
Hai, nama saya Triana Komalasari.
Saya adalah orang yang mudah beradaptasi di suatu komunitas dimana saya berada. Karenanya, saya punya banyak teman.
Saya adalah orang yang mudah beradaptasi di suatu komunitas dimana saya berada. Karenanya, saya punya banyak teman.
Menurut teman-teman saya, saya menyenangkan. Saya ringan tangan untuk membantu melakukan sesuatu bagi mereka, pendengar yang baik, dan humoris. Sounds good yaa saya ini ☺
Bentukannya pasti OK banget!
Bentukannya pasti OK banget!
Sekedar informasi, saya adalah manusia biasa juga. Kadang, ego saya keluar. Saya, bisa begitu selfish nya. Saya bisa tidak mau membantu orang lain. Saya bisa saja malas mendengarkan orang-orang curhat ke saya. Dan saya bisa menjadi orang yang menyebalkan, jauh dari deskripsi humoris dan menyenangkan. Walaupun hal tersebut jarannggg sekali terjadi sepanjang hidup saya, tapi itu pernah terjadi.
Ada saat ketika saya begitu menyebalkan, alih-alih berbuat sesuatu hal yang lucu, saya malah ikut serta membully seseorang. Seseorang yang tidak pernah berbuat buruk kepada saya. Seseorang yang malah kagum terhadap saya dan menjadikan saya sebagai panutannya.
Saat itu saya kesal bukan kepalang. Anak ini, yang menyebalkan menurut teman-teman yang lainnya, terus mengikuti saya dan melakukan hal-hal yang juga saya lakukan. Saya merasa terbebani olehnya. Bahkan, saya merasa terteror saat itu.
Sesungguhnya, saya menyesalinya. Namun permohonan maaf itu tidak pernah terucap karena saya tidak pernah lagi melihatnya. Ada hutang maaf yang harus saya ucapkan.
Waktu berlalu, detik bergulir terus. Dua dekade setelah kejadian itu, saya masih mencari berita tentangnya.
Bukan. Bukan untuk kembali membully nya seperti sangkaan teman-teman semuanya. Tapi untuk mengucap sebuah kata maaf yang dulu tidak pernah terucap. Saya bahkan sudah tidak punya hasrat dan tenaga lagi untuk mencela andai saja dia ada di depan muka.
Untuk sebuah kata maaf.
Untuk sebuah rasa yang pernah ada.
Untuk cerita yang tidak pernah berani saya karang akhir kisahnya.
Terimakasih sudah memaafkan. Sungguh, itu sangat berarti bagi saya saat ini.
Untuk sebuah rasa yang pernah ada.
Untuk cerita yang tidak pernah berani saya karang akhir kisahnya.
Terimakasih sudah memaafkan. Sungguh, itu sangat berarti bagi saya saat ini.
Hari ini, 11 Desember 2017. Saya, Triana Komalasari, akan menuliskan akhir dari cerita yang pernah ada. Tidak, saya tidak mengarangnya. Tapi saya membayar lunas hutang maaf saya kepadanya.
Terimakasih telah memaafkan saya ☺
Wednesday, October 11, 2017
Mom's Birthday
Ada kata yg tak terucap.
Ada rindu yg tak terjawab.
Dalam bait doa, semoga cinta terus tercipta.
Terimakasih Tuhan karena telah meniupkan ruh pada perempuan pahlawan ini 63 th yll.
Terimakasih karena menjadikan ia sbg ibuku.
Kini, jagalah dia seperti beliau menjagaku dulu semasa kecil.
Titip rinduku yg membuncah padanya.
Katakan jg padanya bahwa aku baik2 saja.
Terimakasih Tuhan, aku tau Engkau Maha Baik.
Ada rindu yg tak terjawab.
Dalam bait doa, semoga cinta terus tercipta.
Terimakasih Tuhan karena telah meniupkan ruh pada perempuan pahlawan ini 63 th yll.
Terimakasih karena menjadikan ia sbg ibuku.
Kini, jagalah dia seperti beliau menjagaku dulu semasa kecil.
Titip rinduku yg membuncah padanya.
Katakan jg padanya bahwa aku baik2 saja.
Terimakasih Tuhan, aku tau Engkau Maha Baik.
Thursday, October 05, 2017
Friends of Mine
Kalau kamu mau tau seperti apa seseorang, liat saja teman2 nya.
Teman adalah cerminan.
Jadi, siapa bilang ga boleh milih2 teman?
Justru kita harus memilih teman yg bisa bersinergi baik dg kita.
Menjadikan kita org yg makin baik setiap harinya.
Yg bukan hanya bersama mereka kita bisa move on tapi jg bersama mereka kita terus move up.
I love you friends
😘
😘
Love you to the moon and flying together with love.
Because of you all, I believe I can fly
💃
🐣
🐦
Teman adalah cerminan.
Jadi, siapa bilang ga boleh milih2 teman?
Justru kita harus memilih teman yg bisa bersinergi baik dg kita.
Menjadikan kita org yg makin baik setiap harinya.
Yg bukan hanya bersama mereka kita bisa move on tapi jg bersama mereka kita terus move up.
I love you friends
Love you to the moon and flying together with love.
Because of you all, I believe I can fly
Subscribe to:
Posts (Atom)



