Sunday, March 20, 2016

Dear God

Mungkin, yang pergi dengan kenangan indah itu CINTA,
Namun yang datang dengan komitmen itu JODOH.

Mungkin, yang menggelisahkan hati itu BERHARAP,
Namun yang menentramkan hati itu YAKIN.

Mungkin, yang tak bisa dilupakan itu MASA LALU,
Namun yang bisa kita ubah itu HARI INI.

Mungkin, yang menyesakkan dada itu CEMBURU,
Namun yang melegakan dada itu IKHLAS.

Memang berat untuk melupakan dirinya, yang pernah memberikan warna dalam hidup, yang pernah memercikkan cinta dalam hati. Namun, waktu yang akan menjawab.

Siapa belahan jiwa sebenarnya yang Dia anugerahkan untuk menjadi tempat yang halal untuk menambatkan hati juga
mengekspresikan segala warna cinta.

Ya Rabb Ya Tuhan kami…
Berilkanlah kami pasangan yang terbaik di sisiMu. Terbaik untuk urusan agama, urusan dunia dan akhirat kami.

Aamiin Ya Rabbal'Aalamiin

Friday, March 11, 2016

Kelimutu, Jauh di Mata masih di Indonesia


Kelimutu terletak di Desa Moni, beberapa puluh kilometer dari Kota Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Ya, danau 3 warna ini berada di Kelimutu National Park, sebuah taman nasional yang berada di Indonesia timur.

Danau 3 warna ini pada hakikatnya bukanlah danau, tetapi kawah yang berada di puncak gunung Kelimutu. Warna tiap-tiap danaunya adalah putih pucat, hijau kebiruan, dan merah. Namun pada saat saya kesana, danau yang berwarna merah, berubah warna menjadi coklat tua. Diyakini oleh penduduk sekitar, perubahan warna danau ini berhubungan dengan situasi yang akan terjadi, baik di sekitar danau tersebut atau secara global. Mereka meyakini perubahan kali ini bisa jadi karena akan ada fenomena gerhana matahari total yang melintasi Indonesia.

Masih berhubungan dengan kepercayaan penduduk sekitar, danau-danau ini dipercaya sebagai tempat berpulangnya arwah-arwah orang yang sudah meninggal. Pembagiannya berdasarkan usia, yaitu danau orang tua (berwarna putih pucat) dan danau untuk orang muda/ anak-anak (berwana hijau kebiruan) . Danau yang satu lagi, dipercayai menampung arwah orang-orang jahat (berwarna merah). Masuk ke area taman nasional juga tidak sembarangan, terlebih dahulu kita harus pamit dengan "penjaga" nya yang dipercaya juga sebagai gerbang masuk Kelimutu.

Bagi saya, perjalanan menuju Kelimutu adalah sebuah perjalanan panjang. Hmmm, sebenarnya tidak sepanjang itu juga sih, tidak sampai harus menyebrangi benua dan mengarungi tujuh samudra. Namun, perjalanan ke Indonesia bagian timur memang tidak sedekat di dalam peta. Juga tidak semudah men-scroll gambar-gambar instagram di HP dan menikmati keindahan dari segala penjuru dunia. Dapat saya singkat menjadi satu kalimat, yaitu : "Butuh effort."

Jadi, dari Jakarta ke Kelimutu, bandara terdekat yang harus dituju adalah bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Jakarta ke Ende bisa transit di Denpasar atau di Kupang karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Ende. Dari Ende, kita harus ke Moni, desa terdekat dengan puncak Kelimutu. Selanjutnya kita bisa tracking ke puncak Kelimutu. Tertulis di peta 13KM. Tentunya jalur tersebut adalah jalur menanjak. Jika kita sewa mobil dari Ende ke Moni, tentu kita bisa minta diantarkan sampai ke pelataran parkir taman nasional. Selepas itu baru kita tracking menuju puncak Kelimutu.

Perjalanan dari parkir taman nasional ke puncak Kelimutu bisa ditempuh kurang lebih 45 menit sampai dengan satu jam. Itu estimasi waktu untuk saya yang berjalan santai dan sempat beberapa kali berhenti untuk istirahat. Tentu perhitungan waktu untuk tiap orang bisa saja berbeda. Jalanannya dalam kondisi baik. Bahkan di beberapa tempat yang mengharuskan kita menanjak, sudah ada tangga yang mempermudah kita mencapai puncak.

Dari Ende ke Moni, ada dua alternatif transportasi yang bisa diambil. Pertama, sewa mobil harian ataupun sewa lepas (hanya mengantarkan ke Moni) atau jalan kedua kita bisa naik angkutan umum. Kalau pilihannya adalah menggunakan angkutan umum, maka kita harus ke terminal terlebih dahulu, lalu naik bus antar kota tujuan Moni.

Jika kita pergi dalam grup, tentu lebih hemat dan efisien bila menyewa mobil secara harian. Sewa mobil bisa dilakukan di bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende. Keluar dari bandara sudah banyak orang yang menawarkan jasa penyewaan mobil. Rata-rata mereka sudah bersepakat mengenai harga dengan sesamanya, jadi dari supir yang satu ke yang lain, harganya cenderung sama.

Balik ke judul di atas, dengan mengasumsikan tidak ada penerbangan yang delay, waktu transit yang cepat, langsung menemukan sewa mobil yang cocok, tidak ada hambatan jalan yang tertutup akibat longsor atau apapun kendala-kendala lain yang bisa saja muncul, perjalanan ini bisa ditempuh dalam waktu sehari penuh. Silahkan tambahkan tambahan waktu tersendiri untuk setiap hambatan yang muncul selama perjalanan atau kelebihan waktu akibat pilihan jalur yang memakan waktu lebih lama. Karena itulah, bagi saya Kelimutu itu jauh di mata, walaupun masih di Indonesia.



Menyesal pergi ke Kelimutu?
Sama sekali tidak!
Bahkan apabila ada kesempatan lain sehingga saya dapat mengunjunginya lagi, saya akan langsung packing dan bergegas pergi ke Kelimutu.
Because for me, Kelimutu it's so awesome!
Sebagai manusia, saya mengagumi keindahan cipataanNYA. Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa beruntung Kelimutu ada di Indonesia *:x lovestruck



Saturday, February 06, 2016

Lelah Merindu

Kembali, aku memasukkan dirimu ke dalam kotak memoriku.
Cukup sudah seharian ini kau bermain-main di dalam pikiranku.
Jauh di ruang tersembunyi hatiku, memang masih ada kamu.
Namun realita tidak seperti harapan di dalam doa.
Hai kamu, sesungguhnya aku lelah merindu.

Saturday, January 30, 2016

Long Trip

Saya tinggal di Bekasi? Hal ini juga sudah diketahui hampir oleh semua orang yang mengenal saya. Bahkan banyak diantara mereka yang suka bergurau bahwa sayalah sang pemilik Bekasi. hahaha... Ya, ini seolah hanya sayalah warga Bekasi yang ada di muka bumi yang dikenalnya :P

Bekasi adalah sebuah kota satelit penyangga ibu kota Jakarta. Sebagian besar penduduknya bekerja di Jakarta. Begitupun saya. Bahkan dulu ketika sekolah dan kuliahpun, saya menjadi separuh Jakarta. Hal ini karena terlalu banyak waktu yang saya habiskan di ibu kota. Banyak yang bilang, sehari-hari "tua di jalan". Ya, bagi saya itulah seninya hidup ini.

Sebagai contoh, teman yang kost di sekitar kantor, hanya punya satu sampai dua kejadian yang bisa dia ceritakan dalam perjalanan ke atau dari kantor menuju kost-nya. Satu kejadian adalah tentang ketemu tetangga nyinyir yang kepo bertanya kemarin kemana hingga pulang larut malam. Kejadian lainnya adalah ketemu tukang bubur ayam tapi gagal sarapan karena sudah kehabisan. Bandingkan dengan saya yang menempuh kurang lebih 72 km setiap harinya dalam perjalanan pergi dan pulang kantor. Jarak ini belum ditambah bila pulang kerja mampir dulu menjauh dari Bekasi untuk bertemu kawan lama.

Scene pertama ketemu ibu-ibu yang ramai menyapa sambil tetep ngeriung depan abang tukang sayur. Scene kedua sapa menyapa dengan bapak satpam depan kompleks yang kadang sering berubah menjadi ibu kepo seperti cerita teman saya di atas. Scene ketiga seputar macetnya jalanan di depan pasar. Kadang scene ini bisa menjadi sebuah episode tersendiri jika ada kejadian-kejadian luar biasa seperti ban pecah, kecelakaan lalu lintas, atau hal-hal extra ordinary lainnya yang tidak secara rutin muncul. Lalu ada scene berbincang sejenak dengan abang parkir. Ada scene milih gerbong comuter yang lumayan lega biar bisa bobok santai. Scene ini bisa ada scene tambahan bila saya ketiduran di comuter lalu terlewati stasiun turunnya. Yahhhh, namanya juga manusia yaa, bisa aja khilaf kan yaa.. ;)
Lanjut scene ngojek melewati jembatan yang pernah putus karena banjir. Lalu scene lain-lainnya yang bisa saja muncul tanpa masuk dalam skenario sebelumnya.

Yaaaaa, memang panjang. Dan disitulah seninya menjalani kehidupan :D

Saya adalah penyuka travelling? Ya, saya sudah banyak yang tahu akan hal itu. Walau jumlahnya mungkin tidak sebanyak mereka yang tahu kalau saya tinggal di Bekasi :P

Sebagai penyuka travelling, bandara sepertinya adalah salah satu akses wajib yang harus didatangi bila akan bepergian. Maka kejadian ga kalah seru dan ga kalah panjang bisa saja tertulis disini. Hehe ;)

Bandara Sukarno Hatta itu letaknya di Cengkareng, Tangerang, Banten. Sebuah kota satelitnya Jakarta yang lainnya. Tangerang ini letaknya di barat Jakarta, berseberangan dengan Bekasi yang letaknya di timur Jakarta. Jadi secara cepat bisa dijelaskan kalau perjalanan saya dari rumah ke bandara adalah dari timur ke barat dan membelah Jakarta. Melewati tiga kota dan tiga propinsi. Yesss, ga salah baca kokk..
Saya memang menulis melewati tiga kota dan tiga propinsi!

Epic-nya adalah jika perjalanan yang saya lakukan itu merupakan penerbangan malam. Ya, saya sering melakukan penerbangan malam. Hal ini saya lakukan biasanya untuk memperpendek cuti. Jadi pada hari H, saya bekerja terlebih dahulu lalu baru pada malam harinya saya memulai perjalanan. Timur ke selatan. Ya, saya bekerja di selatan Jakarta. Lalu dari selatan ke barat. Menempuh jarak puluhan kilometer. Membawa koper atau ransel dan sejuta harapan. #eeaa #tsahhh

Yes that's the point. Bagi saya perjalanan adalah tentang pencapaian harapan dan merayakan kehidupan. Karena bagi saya kehidupan ini memang harus dirayakan. Jadi, sejauh apapun perjalanan, sesungguhnya perjalanan terjauh adalah perjalanan untuk pemenuhan harapan dan perayaan kehidupan itu sendiri.
#letscelebrateourlife

Friday, January 15, 2016

New me

Januari selalu menjadi saat yg tepat utk membuat sebuah resolusi. Bagi saya, bukan hanya karena Januari adalah bulan pertama dlm hitungan kalender, tapi juga karena di bulan inilah saya memulai hidup di usia yang baru.

Resolusi bagi saya adalah rencana, harapan, keinginan saya yg saya harapkan dapat terwujud pada tahun tsb.
Setiap tahunnya, selalu ada resolusi baru yang saya tambahkan dalam resolusi tahun sebelumnya. Penambahan item sebanding dg item yg sukses dilaksanakan pada tahun sebelumnya.

2015 sudah berganti. 2016 sudah berjalan selama 15 hari. Tapi belum ada resolusi tahun baru yg saya buat.

Bingung menentukan resolusi?
Sepertinya tidak!
Saya masih memiliki banyak harapan dan keinginan serta rencana-rencana hebat yg harus dilakukan agar keinginan tsb bisa terwujud.
Satu hal yang jelas mengapa saya tidak menuliskannya karena saya hanya ingin menjadi "seseorang yang baru" dengan semua yang terjadi di dalam kehidupan saya di usia yang baru ini.

Friday, December 25, 2015

Happy

Judge nothing, you will be happy.
Forgive everything, you will be happier.
Love everything, you will be happiest.

Tuesday, December 01, 2015

2015 Resolution

Hari pertama di bulan terakhir dalam tahun 2015.

Pagi-pagi dalam perjalanan menuju kantor, saat mengecek obrolan di wa group, ada teman yang melontarkan pertanyaan "apa resolusi untuk 2016?". Sebuah pertanyaan terbuka yang dia lontarkan untuk semua anggota grup tersebut. Saya, yang saat itu bermotoran, terlambat menjawab dan hanya menyimak pembicaraan yang sudah berkembang menjadi absurd setelahnya.

2015 akan segera berakhir dalam satu bulan ke depan. Daripada memikirkan apa resolusi 2016, saya lebih ingin me-review resolusi 2015 yang saya buat sebelumnya. Setidaknya masih ada waktu satu bulan ke depan untuk memperbaikinya. Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan menghendakinya.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, resolusi adalah putusan atau kebulatan pendapat berupa permintaan atau tuntutan yang ditetapkan oleh rapat (musyawarah, sidang); pernyataan tertulis, biasanya berisi tuntutan terhadap suatu hal.

Dalam konteks resolusi tahun baru seperti yang biasa didengungkan di awal tahun, resolusi adalah tujuan atau hal yang ingin dicapai di tahun baru tersebut. Ataupun bisa merupakan rencana perubahan yang akan dilaksanakan dalam waktu satu tahun itu.

Resolusi tahun 2015 saya adalah:
1. Menikah
2. Sukses diet
3. Menambah penghasilan
4. Umroh
5. Mengunjungi negara bersalju
6. Melanjutkan sekolah, atau short course ke LN

Resolusi 2015 ini sebenarnya adalah resolusi 2014 yang sudah direvisi sebelumnya. Ada beberapa rencana yang sudah terlaksana dan membutuhkan pengembangan rencana. Ada pula yang memang harus diganti karena tidak memungkinkan dilaksanakan di tahun berikutnya. Resolusi 2014 yang direvisi ini sebenarnya ada beberapa yang sudah direncanakan pula di 2012 dan 2013. Jadi kesimpulannya adalah, daripada sibuk memikirkan apa resolusi yang akan dilakukan di 2016, saya memilih untuk memperbaiki diri dan merencanakan strategi-strategi baik yang harus dilaksanakan agar resolusi 2015 ini bisa saya laksanakan.