Friday, September 11, 2015

Ramai dalam kesunyian

Waktu sudah menunjukkan 22.20 WIB. Sudah lebih 20 menit dari waktu janjian awal, dan teman seperjalanan malam ini belum ada satupun yg menampakkan batang hidungnya di depan mataku.
Arrgghhh.. Udah janjian jam 10 malam aja, masih telat. Apalagi kalau kemarin beneran janjian jam 8? Bisa jamuran nungguin mereka. Gerutuku dalam hati.

Aku tidaklah sepenuhnya semerana itu. Pada saat yg sama, sambil menunggu mereka, akupun chit chat dengan teman-temanku yang lain. Teman-teman yang berada jauh dari tempatku berada, bahkan teman yang berada jauh di belahan bumi lainnya.
Thanks to internet tentunya :)
Dan terimakasih mesra juga terucap untuk jejaring sosial media.
Untuk kali ini, aku seperti terselamatkan dengan adanya semua sosial media itu. Terselamatkan dg adanya internet yg menyatukan kami.

Dilain waktu, saat pertemuan dengan teman lama yg sesungguhnya sudah lama direncanakan dan sering gagal krn kesibukan kita masing-masing, menjadi hambar karena masing-masing individunya sibuk dg gadgetnya masing-masing. Sibuk bersosialisasi di dunia maya dan lupa menyapa orang lain yang ada di sekitarnya.
Ironi yang lazim kita lihat akhir-akhir ini.

Monday, September 07, 2015

Being Grateful

Jk kmu terbangun pagi ini dg perasaan mengeluh krn ketidakberuntungan yg sdg kmu alami, diam sejenaklah. Lalu, syukurilah apa saja yg kmu punya.
Bukankah masih hidup dan sehat jg merupakan keberuntungan yg harus sll disyukuri?
.
.
Terkadang, kita harus melihat ke bawah. Bukankah terus melihat ke atas akan membuat leher sakit?
Selain itu, kemungkinan tersandung, keseleo dan nubruk sesuatu jg harus diperhitungkan.
‪#‎umpama‬
‪#‎selamatmenikmatihariini‬

.
.


Saturday, June 27, 2015

Triana

Sejak beberapa waktu yang lalu, tepatnya sejak saya mulai menyukai traveling, saya punya satu rencana;
"Bila nanti punya anak, saya akan menamakan anak2 saya tersebut dengan nama2 tempat yang ada di berbagai penjuru dunia. Biar kelak ketika dewasa mereka akan menuju kesana. Minimal sekali seumur hidupnya."

Sebenarnya rencana itu simple aja. Hanya ingin anak keturunan saya kelak bisa mengenal dunia. Bepergian ke berbagai tempat agar bisa 'belajar' dari perjalanannya tersebut.

25 Juni 2015 mendekati tengah malam, saya baru mengetahui kalau Triana adalah nama tempat. Hal itu saya ketahui dari sharing post seorang teman di FB yang menceritakan kehidupan temannya yg sedang berada di Spanyol.

Triana, berlokasi di Seville, Spanish.
http://goo.gl/maps/FJfMy

Orangtua saya tentunya tidak merencanakan perjalanan saya ini. Tidak seperti saya yang memang merencanaka kemana anak saya akan pergi. Tapi kelak, kesana saya akan melangkah.
Noted! Triana on my list!

Wednesday, June 03, 2015

Pembawa Berkah

Liburan kali ini begitu singkat. Hanya sehari. Itupun ditengah kegiatan UKK nya adik bungsu. Alhasil, rencananya adalah wisata kota. Harus dipersempit lagi menjadi wisata kota Bekasi karena mobil yang dipergunakan not in a good condition (oke siip, ke bengkelnya dijadwal ulang sampai kondisi dompet kembali membaik).
Sepagian browsing di internet dan menemukan sebuah link yang berisikan 10 tempat yang wajib dikunjungi di Bekasi. Sebagian besar sudah pernah dikunjungi. Beberapa tempat, walau ingin kembali didatangi, namun tidak memungkinkan jika mengingat kondisi bapak yang sudah susah jalannya. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi klenteng Hok Lay Kiong bersama keluarga.
Hok Lay Kiong atau Pembawa Berkah (dalam bahasa Indonesia) adalah klenteng tertua yang ada di wilayah Bekasi. Diperkirakan klenteng ini dibangun pada abad ke 18. Bangunannya sendiri sudah pernah beberapa kali direnovasi. Hanya renovasi minor tanpa mengubah bentuk bangunan. Bahkan gerbang utama masih merupakan bangunan aslinya sejak dibuat.
Kini, klenteng yang masih dijadikan tempat peribadatan bagi penganut ajaran Thao, sering juga didatangi turis untuk wisata sejarah dan budaya. Yups, klenteng ini memang terbuka untuk umum. Termasuk turis yang singgah hanya sekedar untuk foto-foto modelan kami ini. Foto-fotonya tentunya dengan memperhatikan tata cara dan kesopanan, yaa.. Karena biar bagaimanapun, bangunan ini merupakan tempat ibadah yang harus kita hormati.
Klenteng Hok Lay Kiong ini berada di daerah Margahayu, Bekasi Timur. Letaknya berada di daerah perumahan penduduk yang tidak terlalu jauh dari jalan raya. Namun menemukan klenteng ini tidak semudah terlihat di dalam peta. Banyak jalan satu arah yang membuat para pengendara susah berbalik arah. Hambatan lain adalah gang masuk yang tersamarkan dari arah jalan raya. Hal ini membuat orang yang tidak terbiasa melalui jalan tersebut akan bingung. Satu lagi kendalanya adalah, bahkan tidak banyak warga daerah sekitar yang tahu dengan persis letak klenteng ini.
Mengunjungi klenteng Hok Lay Kiong adalah pilihan yang tepat mengisi liburan singkat dengan banyak syarat seperti yang tertulis di atas. Jikalau ada waktu dan kesempatan lain, tentu saya akan dengan senang hati kembali kesana.


Friday, May 29, 2015

Anak-anak Jaman


          Satu demi satu langkah kaki terayun menelusuri sudut kota, telinga ini tak henti-hentinya terngiang dengan suara bising kendaraan yang melintasi tiada hentinya di jalur menuju pusat kota, indah memang kota itu jika kita melihatnya dengan hati. Mata hati saja tanpa mengikutkan mata secara lahiriah, karena bila mata yang melihat maka di depan ada mereka yang sedang berjuang melawan kerasnya dunia untuk memenuhi hidup mereka. Pejalan kaki yang menapaki trotoar jalanan di kota itu, tukang becak yang mengayuh pedal becaknya demi mencari lembaran uang, tukang ojek mengantri menahan teriknya sang surya demi hidupnya, pedagang asongan yang menjajakan dagangannya demi memenuhi membiayai sekolah anaknya bahkan mata juga akan disuguhi dengan begitu banyak insan paruh bayah dan  juga anak-anak kecil yang duduk bersila atau berjalan tanpa tujuan sambil mengangkat tangannya yang terbuka mengharapkan pemberiaan orang. Ya, mereka adalah pengemis jalanan.Hobby yang rajin kujalani untuk mengusir kegalauan hati membuatku hapal jalanan kota ini. Banyak  kisah terukir disana. Aku hanyalah sebagian kecil dari rangkaian kisah panjang sejarah kota ini. Asyik melintas di sebuah gang dekat persimpangan jalan kota itu, tiba tiba aku mendengar suara tangis penuh haru dari satu sudut ruko, karena penasaran aku mencoba mendekati suara itu, semakin dekat dan dekat lagi, tiba-tiba aku melihat sosok mungil yang sedang duduk bersila sambil memegang perutnya dengan erat. Pertanyaan demi pertanyaan terus terlontas dari benakku. Siapakah dia? Kenapa dia disini? Kemana orang tuanya? Sedih rasanya hati ini melihat wajah ayu yang begitu polos itu begitu. Dia kelaparan dan tanpa perlindungan.

          Negeri ini begitu kaya. Begitu banyak kekayaan yang melimpah ruah di tanah leluhur kami ini. Tetapi pemandangan miris seperti di atas itu masih saja terjadi sampai saat ini. Masih banyak saudara-saudara kita yang kelaparan. Di kota ini, di belahan bumi Indonesia ini. Masih banyak rakyat Indonesia yang bertatih-tatih menelusuri hidup mereka dengan berbagai fenomena yang terselimuti oleh kemiskinan, begitu banyak rakyat yang tak mampu berkata-kata karena tak berdaya menahan prahara politik dan kepentingan para elit-elit bangsa yang hidup penuh kemewahan, penuh kesenangan, berlimpangan harta dan kekayaan. Mereka memperkaya diri mereka dengan mengatas namakan rakyat, menggunakan kepercayaan rakyat untuk memuaskan hidup mereka, berbicara atas nama rakyat, namun mereka tidak pernah sadar bahwa apa yang mereka lakukan, bicarakan, lihat dan saksikan itu sangat dan amat menyiksa rakyat.
          Yang turut menderita dari ini semua tidak terkecuali adalah anak-anak. Anak-anak yang sebenarnya tidak tahu apa-apa dan hanya mengharapkan hidup yang menyenangkan menurut mereka. Itu tidak salah. Itu hak mereka sebagai anak-anak yang menikmati masa kecilnya. Hak anak diatur dalam peraturan negara kita dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2003 tentang Perlindungan Anak. Salah satunya yang harus kita penuhi adalah hak untuk hidup, kelangsungan hidup dan berkembangan yang semuanya dilakukan demi kepentingan terbaik bagi anak.
          Namun yang terjadi pada anak-anak jaman adalah anak-anak yang harus menghadapi kekejaman jamannya. Anak-anak yang tidak bisa merasakan hak nya sebagai anak pada umumnya. Bahkan hal yang sudah diatur dalam peraturan saja tidak dapat tidak dia rasakan. Negara seolah menutup mata akan hal ini. Seakan ada pembiaran begitu saja oleh negara terhadap permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak jaman ini. Mereka ada yang dijadikan pekerja, ada yang terlantar dan tidak memiliki akses terhadap pendidikan dan kehidupan yang layak.

          Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat manusia, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Tuesday, May 19, 2015

Do you love me?

Seharusnya, seorang pecinta akan tau semua detil hal yg dicintainya.
Seharusnya, seorang pecinta melakukan hal itu dg segenap jiwa raganya.
Bukan sbg beban. Dan tanpa paksaan.

Namun bila sang pecinta, ternyata tdk tau apa yg menjadi kesukaan, hal yg tidak disukai, bahkan data diri yg seharusnya dia hapal di luar kepala, apakah dia pantas disebut sang pecinta?

Tak kenal maka tak sayang.
Jika kau menyayangi sesuatu, maka sudah seharusnyalah mengenalnya.
Luar dalam. Dengan hati dan pikiran. Jiwa dan raga.

Do you love me?

Hanya kalimat itulah yg akhirnya terucap jika pecinta melupakan hari lahir orang yg dicintainya. Tidak tau makanan kegemarannya. Dan memaki dg keras atas kesalahan yg sebenarnya justru milik dirinya.

Cinta tidak seperti itu kawan.

Monday, May 18, 2015

Pangrango Berlari

Waktu telah menunjukkan pukul 18.25 WIB dan comuter yg kunaiki baru memasuki 
stasiun Bogor. Belum berhenti, apalagi membuka pintunya dan mempersilahkan para penumpangnya turun.

5 menit lagi jadwal KA Pangrango yg akan kunaiki datang. Jantungku sudah berdebar keras dari satu jam lalu. Saat menunggu comuter ini di stasiun Manggarai.

Sakit kepalaku karena memburu waktu. Sekarang posisiku sudah di depan pintu comuter. Siap menghambur keluar begitu comuter berhenti. Tapi membayangkan kurang dari 5 menit harus transit dari stasiun Bogor ke stasiun Paledang, membuat lututku gemetaran.

Pintu comuter terbuka. Aku menghambur keluar. Berlari menuju pintu keluar stasiun. Berhenti sebentar untuk bertanya pada security, mana jalan tercepat ke stasiun Paledang. Pilihannya adalah, memutar dan menambah lebih dari 200m perjalanan, atau memangkas 200m perjalanan tsb namun menaikin JPO. JPO tsb sudah pasti tinggi. Pastinya butuh usaha lebih dan juga waktu untuk menaikinya dan menuruninya. Kali ini aku pilih pilihan kedua. 

Naik JPO ini menguras tenagaku. Ketika turun dan harus berlari di jalan datar, kakiku sepertinya sudah tidak mampu. Gemetar. Tapi untuk menyerah di beberapa meter terakhir rasanya bukan pilihan bijak.
Tepat di belokan terakhir sebelum masuk stasiun Paledang, KA Pangrango yg akan kunaiki datang dari arah berlawanan. Dengan sisa tenaga yg ada, aku terus berlari.

Hmfff.. Detik-detik terakhir boarding passes!

Akhirnya, perjuangan beberapa jam terakhir selesai. Pencapaiannya adalah, aku berhasil duduk manis di dalam KA Pangrango dengan bercucur keringat di sekujur tubuh. Jantung berdetak lebih cepat dari biasa. Kaki gemetar tak menentu. Dan tentu saja kesenangan hati yg tak kepalang krn akan camping di Curug Sawer, Sukabumi dengan adik dan kakakku.
It's family time, baby.... :*